Saturday, 3 September 2011

My Best Friend My Life Giver part 4



Ini kelanjutan ceritanya........

"kok ga masuk sih?" Kata riska pada ku.
"takutnya dia nggak kenal sama kita. Kalau dia benar-benar sudah bisa melihat" aku mencoba menjelas kan pada riska.
"tapi, dia ga pernah cerita sama ku kalau dia itu punya rumah sebesar ini" kata riska lagi pada ku.
"ayo kita pulang" Kata ku mengajaknya.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam memasuki rumah itu dan berhenti tepat di depan kami. Ternyata itu felix.
"Felix" Kata riska saat pintu mobilnya dibuka.
"iya, ada apa. Apa aku mengenal kalian sebelumnya" Tanya felix pada riska.
"apa kau tidak mengenal kami. Aku riska," Kata riska.
"sudah, riska. Ayo kita pergi dari sini" Kata ku pada riska sembari menarik tangan nya.
"hey, Tunggu sunny" Kata felix.
"sunny, dia ingat sama kamu." Kata riska.
"sudah lah. Ayo kita pergi."
"sunny," seseorang menarik tangan ku.
"felix, kamu tau aku" kata ku padaya.
"terima kasih banyak ya." Kata felix pada ku. "mari kerumah ku"
"Felix, kamu kok ga pernah cerita kalau kamu punya rumah sebesar ini."tanya riska nggak nyambung.
"nanti akan aku ceritakan pada kalian,"
“maaf ya riska, aku pura-pura nggak kenal sama kamu” kata felix pada riska.


********
Kami masuk kedalam rumah felix.
"bi,tolong sediakan minum untuk teman-teman saya ini"
"baik den" Kata salah satu wanita.
"sebentar ya aku ke atas dulu" katanya pada kami berdua.
kami menunggu nya di ruang tamu.
"wah. Aku nggak nyangka dia itu orang kaya." Kata riska.
"non, ini minuman nya."
"makasih bi." Kata ku.
"maaf lama menunggu." Tiba-tiba Felix datang.
"kemana saja kamu selama ini" Tanya riska.
"Maafkan aku ya sunny, aku tidak ada saat kamu membuntuhkan ku. Aku memang sa..."
"cukup...." kata ku." kenapa kamu ga pernah cerita kalau kamu...."
"sunny. Kamu dengar dulu penjelasannya" Kata riska teriak. "kita ga tahu kalau dia ga cerita."
"riska kenapa kamu terus saja membelanya."
"kamu ga ngerti apa yang telah iya korban kan untukmu. Kamu hanya bisa menyalahkannya. Bahkan saat dia sekarat kamu tidak ada disampinya kan, sunny." kata riska marah.
"riska, cukup.." Kata Felix.
"apa maksud mu riska. Cepat katakan pada ku. Apa maksud mu?" Teriakku pada riska
"maaf kan aku sunny" Kata riska.
"sunny, tenang aku akan jelas kan." Kata Felix menyambung."jangan salah kan riska ini semua salah ku."
"jadi, selama ini kamu sudah tahu tentang keberadaan felix." Tanya nya. “dan kamu pura-pura nggak tau” aku mulai marah pada riska.
"tidak, aku tidak pernah tahu kalau dia punya rumah sebesar ini." Jawab riska.
"tapi kalau bukan karena Felix kamu ga akan bisa seperti ini sunny."
"aku ga negerti maksud mu." kata ku pada Riska.
"sunny, tenanglah dulu." Kata Felix. "maafkan aku. Aku memang sahabat yang jahat. Aku tidak ada saat kamu membutuhkan ku. Aku menghilang begitu saja, hingga membuat mu membenci diri ku."
"felix......." Kata riska.
"bagus kalau kamu sadar" Kata ku pada Felix.
"sunny, kalau bukan karena ginjal yang diberikan felix kamu ga akan bisa seperti ini". Teriak riska.
"kamu membencinya hanya karena dia tidak ada saat kamu membutuhkannya, karena dia tidak memberi mu kabar setelah kejadian itu. bahkan kamu tidak menanyakan keadaannya setelah kejadian yang menimpa mu  itu. Kamu tidak ingin tau apa yang iya ingin katakan saat  dia menemui mu waktu itu.” Kata riska
“Kamu egois sekali suuny, mana persahabatan yang sudah kalian bangun sejak lama. Kamu hanya bisa menyalahkannya. Dan setelah kalian bertemu ini kamu juga nggak mau mendengar kan penjelasan nya. Ayo lah sunny, dengarkan dia sebentar. Oke aku minta maaf karena aku udah nggak jujur sama mu." Riska mencoba menyadarkan ku.
"maafkan aku Felix" Aku mulai meneteskan air mata. "aku minta maaf" Aku berlari pulang meninggalkan mereka berdua.
"sunny, tunggu.." Teriak Felix saat aku lari menjauh..
"felix jangan...biarkan dia dulu sendiri. aku pulang dulu" riska berkata sembari menarik tangan felix
"baiklah, tapi kenapa harus kamu yang menjelaskan semuanya riska" kata felix.
“maafkan aku, aku benar-benar tidak sanggup lagi menyimpan semuanya” kata riska meninggalkan felix.


Apakah kelanjutan ceritanya..?

Tuesday, 30 August 2011

A Last Gift part 6


"bi, bibi kok kenal sama riski...Riski siapa?" Tanya ku pada bibi yang sudah lama bekerja di rumah nina. “bukannya keluarga nina udah pindah ya?” aku kembali bertanya. “bibi, bekerja di keluarga riski ya? Aku masih saja terus bertanya.
"oh, den riski ya, Dia itu kembaran almarhum non nina." Jawab bibi itu.
Aku terkejut dengan perkataan bibi itu.
"nina kok ga pernah cerita sama ku kalau dia punya saudara kembar." pikir ku dalam hati.
dari kejauhan aku melihat riski sedang duduk dengan sebuah paket yang tak asing bagi ku.
"non, bibi tahu pasti non lisa bertanya-tanya kenapa nina ga pernah cerita kalau dia punya kembaraan."
"iya bi..."
"non, bakalan tahu mungkin den riski bakalan cerita" kata bibi itu.

"den riski,ini non lisa." kata bibi itu.
"Apa.......? pikir ku." itu kan paket yang sama dengan paket yang ada dirumah ku.
Bibi itu pergi meninggalkan kami berdua di kebun belakang. Aku tidak pernah menyangka kalau orang yang selama ini mengirim paket-paket itu adalah riski.

"lisa..." kata riski pada ku.
"apa maksudmu dengan melakukan ini" tanya ku marah padanya .
"duduk lah dulu biar aku jelaskan"

"aku tahu kamu marah. Tapi aku ngelakuin ini semua untuk mu. Aku sudah mendengar cerita tentang mu dari nina sebelum dia meninggal" Katanya pada ku.
"jadi sebenarnya kamu  siapa riski" Tanya ku.
"aku akan cerita kan. Sebenarnya aku dan nina itu saudara kembar. Sebelum dia mengenal mu aku dan dia sudah bersama. kami  sempat tinggal bersama disini. Aku juga sempat mendengar cerita mu dari dia. Kata dia kamu baik, kamu yang menolong nya saat dia jatuh ditangga dekat sekolah. Kamu juga yang pertama kali berteman dengan nya.
"jadi, semua nya itu ia cerita kan pada mu" tanya ku.
"iya. Setiap hari setelah pulang sekolah dia selalu menceritakan tentang mu. Aku sendiri bosan mendengarnya.Tapi itu tidak berlangsung lama."
"kenapa? dan kenapa kamu tidak bersekolah sama dengan nya." Tanya ku lagi. Aku memperhatikan setiap cerita riski.
"karena aku dan dia saudara kembar aku tidak boleh bersekolah sama denganya. Bahkan aku harus ikut dengan ayah ke luar negeri untuk bersekolah di sana. Aku sedih harus meninggalkan ibu dan nina disini. Tapi itu sudah keputusan ayah dan ibu untuk memisahkan kami. Mereka takut kalau kami bersama kami tidak akan pernah akur. Padahal mereka nggak pernah tahu kalau kami itu akrab sekali. Mereka hanya memikirkan pekerjaan mereka tanpa melihat kami yang begitu dekat tak mungkin terpisahkan.
“memang, selama ini aku nggan pernah melihat orang tua nina padahal kami sudah dua tahun berteman. Jadi, selama ini nina kesepian?” Kata ku dalm hati.
Disana aku harus menjalani kehidupan yang sepi tanpa nina."
" tapi nina ga pernah cerita sama ku kalau dia mempunyai saudara kembar" Tanya ku.
"jawabannya ada di buku harian nya ini." Riski menunjukkan buku yang ada diatas meja sebelahnya.
" kenapa kamu harus ikut dengan ayah mu. Nina juga tidak pernah bercerita tentang ayahnya."
"ayah berkerja disana sampai sekarang. Aku pergi meninggalkan nya disana karena aku tahu bahwa saudara kembar ku meninggal. Ayah tidak memberitahu ku tentang hal itu. Ia takut aku sedih. Nina tak pernah memberi tahu ayah nya pada mu karena ayah telah memisahkan aku dan dia. Dia merasa ayah begitu kejam memisahkan kami.” Riski menjelaskan pada ku.

" Ada yang ingin ku tanya kan lagi pada mu, aku tidak yakin nina meninggal karena kecelakaan malam itu." Tanya ku padanya.
"ada sesuatu hal yang nina sembunyikan dari kita. Dia memang meninggal karena kecelakaan, tapi bukan karena itu saja."
"karena apa riski" tanya ku padanya penasaran.
" Aku belum tahu"

"ada satu hal yang ingin ku sampaikan pada mu. Kenapa paket-paket itu kau kirim kan pada ku"
"aku tidak tahu tentang paket kosong itu, tapi kalau surat itu aku yang mengirimnya." Kata nya padaku.
"jadi, paket-paket itu bukan kamu yang mengirimnya"
"iya" katanya lagi.

"Jadi paket yang ada disamping mu itu, paket siapa itu?" Tanya ku lagi.
"paket ini ku temukan di lemari pakaian nina" Kata Riski.
"Apa yang ada di dalam "
" Sepucuk surat"
"apa isinya." tanya ku pada riski.
"katanya kamu akan ditabrak oleh seseorang"
"kapan di kirim" Tanya ku lagi.
"malam dimana nina datang ke rumah mu"
"berarti tristan..." Teriak ku hingga riski terkejut.
" Tristan tahu..." kata nya lagi.


Sunday, 28 August 2011

A Last Gift part 5



"ih, makasih uda dibilang lucu" kata ku sembari tertawa."nanti aku dan tristan boleh ga ke rumah mu, riski"
"ke rumah ku" tanyanya sedikit terkejut. "boleh, tapi aku menelpon bibi ku dulu ya, mana tau rumah ku berantakan" tersenyum pada ku sambil menelpon seseorang, "tunggu sebantar ya."
"kenapa harus menjauh sih telponannya. Aneh" pikirku dalam benak. sudah beberapa menit riski belom juga selesai bertelepon. "lama kali pun"
"lama ya nunggunya" tiba-tiba riski datang. "boleh, ya sudah nanti datang aja" pergi meninggal kan ku.
"dasar, uda lama nunggu dia siap telponan, eh malah di tinggali" omel ku kesal. "kira-kira dia telponan sama siapa ya." Pikir ku lagi.

"lisa" tiba-tiba tristan menghampiri ku. "apa" kata ku padanya. Aku masih kesal atas kejadian yang tadi. "maaf ya,yang tadi" kata tristan membujuk. "baiklah, kalau gitu mana utang mu yang berpuluh-puluh ribu itu, sini" kata ku kesal padanya. "aduh, lisa. aku lagi ga da uang nii." bujuk nya. "baiklah. Jangan kamu ulangi lagi." Kata ku."oh iya. riski ngizini kita buat datang ke rumah nya. pulang sekolah nanti".
"wah, bagus dong" kata tristan senang.

"perhatian-perhatian.....anak-anak hari ini kita pulang lebih cepat di karenakan para guru akan mengadakan rapat" kata seorang guru dari piket. "asyik, pulang cepat" kata tristan girang."hari ini, hari yang menyenangkan. kita ga belajar".
"dasar, pemalas" canda ku padanya.

bel berbunyi.....
"waktunya pulang" kata tristan.
"kok pulang sih, tapi mau ke rumah riski" kata ku lagi padanya.
"maaf, saya lupa" katanya tertawa.
"oh iya, riski kemana ya. Kok ga kelihatan dari tadi." kata ku sembari mencari-cari riski.
"itu, riski" menunjuk seseorang yang sedang duduk di meja piket.
"riski" teriakku dari parkiran. Aku menghampiri nya. "riski dicari kemana-mana, eh ternyata duduk-duduk di sini" Kata ku lagi padanya. "jadi ke rumah ku" tanya riski.
"jadi: tiba-tiba tristan menyambung.
"boleh ga, riski. kalau tidak boleh, tidak apa-apa"
"boleh" sahutnya. "ayo berangkat sekarang. Aku naik sepeda motor kusendiri. ikuti aja aku".
"baiklah" kata tristan.
**********
Kami sampai didepan rumah yang nggak asing lagi.
"ini rumah ku" kata riski pada kami sembari menunjukkan rumah yang ada di depan kami.
"i.....ni rumah mu" aku terkejut melihat rumah yang di tunjuk kan riski pada kami.
"lisa, rumah i.....ni"kata tristan juga.
Aku dan Tristan terkejut melihat rumah yang di tunjukkan riski pada kami.
"kenapa" tanya riski. "apa kalian baik-baik saja" tanya nya lagi.
"siapa kau sebenarnya riski" Tanya ku pada nya membentak.
"apa hubungannya rumah ini dengan dirimu." Tanya ku lagi padanya.
"masuk lah. kalian akan tahu yang sebenarnya." riski meninggalkan kami di depan rumahnya.
"lisa, kamu baik-baik saja" Tanya tristan.
"aku baik-baik saja"
"ayo kita masuk, lisa"
"tidak, aku tidak sanggup masuk kerumah itu." kata ku pada tristan.
"tapi, lisa. Kamu harus kuat" menarik tangan ku.
"lepaskan tristan. aku mau pulang" Teriakku pada tristan. Aku pergi meninggalkan rumah itu dan berlari menjauh dari rumah itu. "lisa........." Teriak tristan.
Dari kejauhan aku melihat tristan mengendarai sepeda motornya mengejar aku. "lisa. ayo naik. Kita pulang dan tidak akan kembali ke rumah itu lagi." kata tristan pada ku.
Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan riski. Didalam benak ku berbagai pertanyaan muncul "siapa sebenarnya riski? rumah itu, Apa hubungannya dengan rumah itu."

sesampainya dirumah ku,,,,,,,
"lisa, aku tau di rumah itu masih ada kenangan mu bersama nina. Tapi, mungkin saja rumah itu sudah di beli oleh keluarga riski." kata tristan pada ku.
“kamu kan tahu kalau selama ini kita itu nggak pernah dapat kabar soal keluarga nina, mungkin mereka udah pindah” Tristan mencoba menyakinkan ku berkali-kali.
"aku tau. Mungkin riski tidak ada hubungan apa pun dengan nina. tapi aku belum sangup melupakan kenangan yang ada di rumah itu." aku meninggalkan nya dan segera masuk kedalam rumah.
"sore,bu" sapa ku pada ibu yang sedang duduk di ruang tamu. "kenapa kamu lisa, kok wajah kamu pucat, sakit ya" kata ibu sembari memegang dahi ku."tidak panas"
"ga apa-apa kok bu"pergi meniggalkan ibu.
"oh iya lisa. Tadi ada yang mengirimkan surat untuk mu. Itu ibu letakkan di meja belajar mu" Kata ibu.
"makasih ya bu, Aku kekamar dulu" Aku meninggalkan ibu yang sedang menonton tv.

Aku membuka surat itu. ku lihat tidak ada nama pengirimnya. saat ku mulai membaca surat itu, aku terkejut sekali. "sebentar lagi kamu akan tahu semuanya. Hari ini jangan lupakan apa yang kamu lihat. Rumah itu" itu salah satu isi surat itu. Aku berpikir keras dan aku tahu siapa pengirimnya " ini ulah riski,,,Paket...surat" terperanjak aku dari kursi disebelah tempat tidur. Aku tahu sekarang.
Aku bergegas kembali kerumah itu.

"ibu,lisa pamit sebentar ya. mau ke rumah tristan" pamit ku pada ibu.”maaf, bu kali ini aku harus bohong “ kataku dalam hati.
Tristan tak perlu tahu. Aku akan datang ke rumah itu, sendirian saja.

Aku tak akan takut kerumah itu, ini harus diselesaikan. "riski....." teriak ku dari pagar rumah itu.
"non, lisa...ada apa?" tanya sesorang pembantu di rumah itu.
aku tidak asing dengan orang ini. "bibi..." sahut ku.
"mencari den riski ya non. ada kok di dalam." katanya pada ku. "mari saya antar,"




Wednesday, 24 August 2011

A Last Gift part 4



"hallo" Sapaku pada orang diseberang telpon.
"ini lisa" sahut orang itu.
"iya benar. ini sapa"
"aku riski..." sahut nya.
"riski..!! tahu dari mana nomor ku..." tanya ku, sedikit terkejut.
"ada apa menelpon ku malam-malam begini..." Tanya ku lagi padanya.
"lagi sama tristan kan.." Katanya padaku.
"iya.."
telpon nya terputus, mungkin hpya lobet atau pulsanya yang habis.
"riski ya" tanya tristan..
"iya,..."
"apa kata dia. tahu dari siapa nomor mu.." tanya tristan lagi..
"ga tau, mungkin dari teman kita."
"ohhhh".

"katanya tadi kamu mau cerita. cerita Apa?" Tanya ku pada tristan."uda lupa.oh iya aku boleh lihat paket itu tidak" tanya tristan sambil menerawang.
"boleh, bentar ya ku ambilkan di kamar."

"ini" kata ku padanya sembari menyerahkan paket-paket itu.
"lisa, biasanya paket ini diantar setiap hari? "tidak" jawabku. "jam berapa biasnya di antar?" tanya tristan sok menyelidik.
"ga tentu, mungkin siang hari saat aku tidak ada di rumah"
"begitu ya."

kami terdiam sejenak, seolah-olah ada yang kami pikirkan. "lisa" sapa tristan tiba-tiba. "apa?" Tanya ku lagi padanya.
"aku mau cerita soal nina"
"nina..."'jawab ku sedikit terkejut."cerita lah"
"begini, sebelum kamatian nya beberapa bulan yang lalu. Aku sempat melihat nya ke rumah mu. apa dia menjumpai mu"
"tidak.." kataku.."emang nya ada apa."
"tidak ada apa-apa" sahutnya lagi..
aku tidak mengerti dengan tristan. kenapa dia tidak memberitahu ku. Dari wajah nya seperti ada yang iya sembunyikan dari ku. "mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu nya" mungkin pikir tristan dalam lubuk hatinya.
"lisa, aku pulang ya"
"ya sudah" Jawab ku.
"om, tante Tristan pulang ya"
"iya" sahut ibu dari dalam rumah..

Aku kembali ke kamar ku dan mulai kembali memikirkan hal tadi.

"tidak ada satu pun dari hidup ini yang ku mengerti. Paket, mimpi apa itu semua." Pikirku."besok aku harus cari tahu siapa yang mengirim itu semua. "harus" kata ku dengan keras.
rasanya malam ini aku tidak ingin tidur, dan tidak ingin memimpikan mimpi yang bisa di bilang aneh itu. tapi apa yang harus di kata, malam itu kedua mata ku mendesak ku untuk memejamkan mata.

***********

"pagi ayah, pagi ibu" Sapa ku pada ayah dan ibu yang sudah berada di meja makan. "aku berangkat dulu ya." Kata ku smbari mencium kedua tangan kanan mereka.
Tristan sudah menuggu ku dengan sepeda motornya yang itu-itu saja setiap hari.
"tumben, datang nya cepat.." Sapaku padanya. Tristan termasuk orang yang sering telat. Biasanya aku harus menunggunya bermenit-menit. "datang cepat salah, ga datang cepat juga salah, jadi maunya gimana." Jawabnya tertawa.  "pakai nii helm."
Aku kesal setiap kali tristan menyuruh ku memakai helm. Tapi tidak apa-apalah, ntar kalau aku protes terus dia bisa-bisa tidak mau lagi berangkat dengan  ku. Kan lumayan irit ongkos.
"lisa, nanti kerumah riski yuk,"
"ngapain" tanya ku padanya." aku sedikit curiga ngelihat anak itu."jawabnya."iya, aku juga. Dia tahu tentang aku. mungkin dia diam-diam ngefans kale sama ku,tan”.
"mulai deh, geernya. Jadi males aku" Jawab tristan.
"akhirnya sampai juga di sekolah. soalnya aku uda malas nii dekat-dekat sama kamu terus. Ga di sekolah, di kelas dan dirumah, yang ku lihat kamu-kamu aja" Canda ku pada tristan. Aku berlari menuju kelas ku dengar teriakkan tristan "woi, aku juga males kale."

"pagi lisa" sapa riski dari meja yang iya duduki.
"pagi juga" Sahut ku. Sebenarnya aku sedikit takut duduk dengan riski. Aku ingin sekali pindah, Tapi bangku ini bagi ku sangat berarti. "mungkin kalau aku pindah banyak cewek yang ingin duduk dengan nya. Tampang nya yang lumayan ini, mungkin bisa menarik anak perempuan di kelas ku ini. Riski memilki wajah yang lumayan. "mungkin saat ini aku belum naksir padanya, mungkin saja nanti. Heheeee" pikirku dalam hati sembari tersenyum padanya. " Lisa..." tiba-tiba saja teriakkan dari luar mengejutkan ku. "mana uang ku yang kamu pinjam kemaren" kata tristan padaku. "dasar".Suka bikin malu orang aja. Utang ku sama dia kan cuma seribu, itu aja minta  tagi. Lah dia yang utangnya berpuluh-puluh ribu sama ku. ga pernah tuh aku tagi" Pikir ku kesal. "nah, seribu kan" Teriakku padanya. Semua murid memperhatikan kami. aku malu sekali, sampai wajah ku memerah.
Setelah mendapatkan uang itu dia pergi meninggalkan ku begitu saja tanpa meminta maaf. "dasar" Kata ku dengan keras hingga mengejutkan semua orang. Riski yang disamping dari tadi hanya tersenyum memperhatikan perilaku ku dan tristan tadi. "kamu ternyata lucu ya" Kata nya pada ku.





Review ala-ala Kim Ji Young Born 1982

Apa kabar kalian semua? Ku harap kalian baik-baik saja. Selamat menjalani hari ini dan hari-hari selanjutnya dengan kegembiraan :'...