Sunday, 28 August 2011

A Last Gift part 5



"ih, makasih uda dibilang lucu" kata ku sembari tertawa."nanti aku dan tristan boleh ga ke rumah mu, riski"
"ke rumah ku" tanyanya sedikit terkejut. "boleh, tapi aku menelpon bibi ku dulu ya, mana tau rumah ku berantakan" tersenyum pada ku sambil menelpon seseorang, "tunggu sebantar ya."
"kenapa harus menjauh sih telponannya. Aneh" pikirku dalam benak. sudah beberapa menit riski belom juga selesai bertelepon. "lama kali pun"
"lama ya nunggunya" tiba-tiba riski datang. "boleh, ya sudah nanti datang aja" pergi meninggal kan ku.
"dasar, uda lama nunggu dia siap telponan, eh malah di tinggali" omel ku kesal. "kira-kira dia telponan sama siapa ya." Pikir ku lagi.

"lisa" tiba-tiba tristan menghampiri ku. "apa" kata ku padanya. Aku masih kesal atas kejadian yang tadi. "maaf ya,yang tadi" kata tristan membujuk. "baiklah, kalau gitu mana utang mu yang berpuluh-puluh ribu itu, sini" kata ku kesal padanya. "aduh, lisa. aku lagi ga da uang nii." bujuk nya. "baiklah. Jangan kamu ulangi lagi." Kata ku."oh iya. riski ngizini kita buat datang ke rumah nya. pulang sekolah nanti".
"wah, bagus dong" kata tristan senang.

"perhatian-perhatian.....anak-anak hari ini kita pulang lebih cepat di karenakan para guru akan mengadakan rapat" kata seorang guru dari piket. "asyik, pulang cepat" kata tristan girang."hari ini, hari yang menyenangkan. kita ga belajar".
"dasar, pemalas" canda ku padanya.

bel berbunyi.....
"waktunya pulang" kata tristan.
"kok pulang sih, tapi mau ke rumah riski" kata ku lagi padanya.
"maaf, saya lupa" katanya tertawa.
"oh iya, riski kemana ya. Kok ga kelihatan dari tadi." kata ku sembari mencari-cari riski.
"itu, riski" menunjuk seseorang yang sedang duduk di meja piket.
"riski" teriakku dari parkiran. Aku menghampiri nya. "riski dicari kemana-mana, eh ternyata duduk-duduk di sini" Kata ku lagi padanya. "jadi ke rumah ku" tanya riski.
"jadi: tiba-tiba tristan menyambung.
"boleh ga, riski. kalau tidak boleh, tidak apa-apa"
"boleh" sahutnya. "ayo berangkat sekarang. Aku naik sepeda motor kusendiri. ikuti aja aku".
"baiklah" kata tristan.
**********
Kami sampai didepan rumah yang nggak asing lagi.
"ini rumah ku" kata riski pada kami sembari menunjukkan rumah yang ada di depan kami.
"i.....ni rumah mu" aku terkejut melihat rumah yang di tunjuk kan riski pada kami.
"lisa, rumah i.....ni"kata tristan juga.
Aku dan Tristan terkejut melihat rumah yang di tunjukkan riski pada kami.
"kenapa" tanya riski. "apa kalian baik-baik saja" tanya nya lagi.
"siapa kau sebenarnya riski" Tanya ku pada nya membentak.
"apa hubungannya rumah ini dengan dirimu." Tanya ku lagi padanya.
"masuk lah. kalian akan tahu yang sebenarnya." riski meninggalkan kami di depan rumahnya.
"lisa, kamu baik-baik saja" Tanya tristan.
"aku baik-baik saja"
"ayo kita masuk, lisa"
"tidak, aku tidak sanggup masuk kerumah itu." kata ku pada tristan.
"tapi, lisa. Kamu harus kuat" menarik tangan ku.
"lepaskan tristan. aku mau pulang" Teriakku pada tristan. Aku pergi meninggalkan rumah itu dan berlari menjauh dari rumah itu. "lisa........." Teriak tristan.
Dari kejauhan aku melihat tristan mengendarai sepeda motornya mengejar aku. "lisa. ayo naik. Kita pulang dan tidak akan kembali ke rumah itu lagi." kata tristan pada ku.
Sepanjang perjalanan pulang aku terus memikirkan riski. Didalam benak ku berbagai pertanyaan muncul "siapa sebenarnya riski? rumah itu, Apa hubungannya dengan rumah itu."

sesampainya dirumah ku,,,,,,,
"lisa, aku tau di rumah itu masih ada kenangan mu bersama nina. Tapi, mungkin saja rumah itu sudah di beli oleh keluarga riski." kata tristan pada ku.
“kamu kan tahu kalau selama ini kita itu nggak pernah dapat kabar soal keluarga nina, mungkin mereka udah pindah” Tristan mencoba menyakinkan ku berkali-kali.
"aku tau. Mungkin riski tidak ada hubungan apa pun dengan nina. tapi aku belum sangup melupakan kenangan yang ada di rumah itu." aku meninggalkan nya dan segera masuk kedalam rumah.
"sore,bu" sapa ku pada ibu yang sedang duduk di ruang tamu. "kenapa kamu lisa, kok wajah kamu pucat, sakit ya" kata ibu sembari memegang dahi ku."tidak panas"
"ga apa-apa kok bu"pergi meniggalkan ibu.
"oh iya lisa. Tadi ada yang mengirimkan surat untuk mu. Itu ibu letakkan di meja belajar mu" Kata ibu.
"makasih ya bu, Aku kekamar dulu" Aku meninggalkan ibu yang sedang menonton tv.

Aku membuka surat itu. ku lihat tidak ada nama pengirimnya. saat ku mulai membaca surat itu, aku terkejut sekali. "sebentar lagi kamu akan tahu semuanya. Hari ini jangan lupakan apa yang kamu lihat. Rumah itu" itu salah satu isi surat itu. Aku berpikir keras dan aku tahu siapa pengirimnya " ini ulah riski,,,Paket...surat" terperanjak aku dari kursi disebelah tempat tidur. Aku tahu sekarang.
Aku bergegas kembali kerumah itu.

"ibu,lisa pamit sebentar ya. mau ke rumah tristan" pamit ku pada ibu.”maaf, bu kali ini aku harus bohong “ kataku dalam hati.
Tristan tak perlu tahu. Aku akan datang ke rumah itu, sendirian saja.

Aku tak akan takut kerumah itu, ini harus diselesaikan. "riski....." teriak ku dari pagar rumah itu.
"non, lisa...ada apa?" tanya sesorang pembantu di rumah itu.
aku tidak asing dengan orang ini. "bibi..." sahut ku.
"mencari den riski ya non. ada kok di dalam." katanya pada ku. "mari saya antar,"




No comments:

Post a Comment

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...