Friday, 29 June 2012
Monday, 25 June 2012
A Last Gift Part 20
Di taman belakang rumah riski.
“aduh, gimana nii” aku panik dan memejam kan kedua
bola mata ku, aku takut.
“lisa, mafin aku ya” kata riski mendekat ke telinga
ku. Dia berbisik.
“maaf kenapa?”
aku memberanikan diriku bertanya. Kalau dilihat-lihat riski nggak
kelihatan mengalami depresi yang amat berat dan membuatnya hampir dikatakan
gila. Dia baik-baik aja.
“maaf karena aku uda bohongi kalian berdua” Aku dan Tristan
saling pandang.
“maksudnya
apa?” Tristan bertanya pada riski yang sedang duduk membelakangi kami.
“ Mungkin ini waktu yang tepat buat kalian tahu yang
sebenarnya. Sebenarnya, yang ngirimin
kamu paket selama ini itu. AKU.” kata riski jujur. Pengakuan riski itu membuat
ku sangat terkejut. Bagaikan tersambar petir disiang bolong.
“jadi selama ini yang ngirimin aku paket mengerikan
itu kamu” kata ku tenang. Aku mencoba tenang. Aku tahu pasti dia punya alasan
melakukan itu.
“riski, kamu benar-benar sudah gila” kata Tristan
marah, Tristan menarik kerah baju riski. “apa kamu nggak kasihan ngeliat lisa
saat dia menerima paket-paket itu, riski
kamu uda buat lisa itu takut”
“tenang Tristan” aku melepas kan tangan Tristan dari
kerah baju riski.
“aku memang sudah gila tan, gila karena dia.” Tristan
menunjuk aku.
“gara-gara dia, nina kecelakaan. Gara-gara dia juga
aku berpisah dengan nina. Dialah penyebabnya. Kalau bukan karena mau menemui
lisa, pasti malam itu nina nggak bakalan kerumah lisa dan akhrinya dia…..” riski kembali tenang dan tak mampu
melanjutkan kata terakhirnya itu.
“Tristan, nina yang kamu lihat malam sebelum
kecelakaan itu baru saja menemui ku. Dia marah karena aku mengikutinya. Aku
melakukan itu karena aku mempunyai firasat buruk. Tapi apa!! dia marah, dan
meninggalkan ku dan akhirya…. Bahakan aku belum sempat minta maaf
padanya.”
“maaf kan aku riski kalau kamu berpikir memang aku
penyebabnya” kataku pada riski.
“bukan begitu lisa. Yang seharusnya minta maaf itu AKU.
aku uda membuat mu takut. Apalagi aku uda ngilang gitu aja tanpa pamit pada
kalian,udah buat kalian khawatir.”
“siapa juga yang khawatir sama mu.” Kata Tristan.
Padahal dia kan juga nyariin si riski.
“maafkan aku” kata riski lagi.
“tidak apa-apa. aku uda maafin kamu riski.” Kata ku.
“makasih lisaa” kata riski.
“oh iya. Soal kamu ke amerika dan pulang-pulang…..”
kata tristan pada riski. Sepertinya Tristan tidak berani melanjutkan kata-kata
terakhirnya.
Riski hanya tertawa, “aku memang ke amerika, untuk
menenangkan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu ini. Tapi
kalau soal itu aku hanya berpura-pura saja, supaya nggak ditanya-tanyai sama
mereka” Kata riski
“ooohhhh” serentak aku dan Tristan berkata.
“sekarang kita udah tau kalau paket-paket itu berasal
dari riski. Dan nggak perlu di masalahkan lagi. Tinggal di buang aja.”
Kata Tristan.
“soal buku harian nina itu?” kata ku tiba-tiba.
“itu buat kamu aja.” Kata riski. “anggap saja semua
itu paket terakhir pemberian nina” tambah riski lagi.
Kami bertiga tertawa bersama. Sampai-sampai tidak
ingat pesan satpam tadi “sebentar aja ya”.
Semuanya kembali seperti biasa, aku dan hidup ku. Entah kenapa aku nggak bisa marah sama riski
atas perbuatan nya itu, mungkin karena dia adalah saudara kembar nina. Setiap
melihat riski aku selalu melihat bayang-bayang nina.
Aku dan sahabat-sahabat ku itu melanjutkan hidup kami
dengan penuh kebahagian.
Semua
itu biarkan lah berlalu semua akan indah pada waktunya.
We are always happy because we live in
the nature.
Dan mereka akhirnya hidup bahagia.
THE END
Akhirnya Setelah lama berpikir ketemu juga akhir cerita a last gift. Semoga
pembaca suka dengan akhir cerita nya.
Sunday, 17 June 2012
Last Gift Part 19
Setelah
pulang dari rumah riski aku masih saja memikirkan hal tadi.
Aku
dan Tristan sibuk dengan pikiran kami.
“Riski
gila” pernyataan itu masih saja menghantui pikiranku. Aku benar-benar tidak
tenang.
“lis,
nggak mungkin kan riski gila. Lisa,lisa”
“haloo
lisa” Tristan melambaikan tangan nya ke hadapan wajah ku.
“apaan sih” aku menepis tangan Tristan yang ada di hadapan wajah ku.
“apaan sih” aku menepis tangan Tristan yang ada di hadapan wajah ku.
“iya,
aku juga lagi mikirin itu. Masa iya dia gila, akh nggak mungkin ” kata ku tidak
percaya.
“kayaknya
kita mesti pastiin sendiri lis” Tristan berlaga sok pintar.
“kan
tadi kamu dengar sendiri kalau kita teman-temanya riski nggak di bolehin masuk,
kalau masuk aja nggak dikasih cemana mau mastiin nya.” Aku menarik pelan rambut
Tristan.
“sakit
lis” aku melepaskan tangan ku dari rambut Tristan.
“makanya
kalau ngasih ide itu cermelang dikit.” Cerocos ku.
“lis,
sediain minum napa?” protes Tristan.
“iya,
iya ntar” aku meninggalkan Tristan di teras
Setelah
beberapa menit…
“lama
amat” protes Tristan.
“mending
aku ambilin” cerocos ku lagi.
“iya
maaf…maaf” tawa Tristan.
“yaudah
kembali ke topik, “ kata ku pada Tristan.
“besok
kita balik aja ke rumah nya si riski, kan gampang.” Kata Tristan.
“kalau
ntar kita nggak di kasih masuk kamu mau bilang apa WAH gitu?” kataku
sebel.
“kan
mana tahu mama nya si riski kesambet apa gitu jadi baik dan ngizini kita
masuk”
Jawab Tristan nggak mau kalah.
“itu
pun kalau dewi fortuna memihak kita” kata ku.
“usaha
dong, semakin kita sering muncul dirumah si riski. Pasti satpam rumah
bosan
ngeliat kita dan ngizini kita masuk.” Jelas Tristan lagi.
“nggak
masuk akal banget. Ya uda deh terserah kamu aja” kali ini aku harus menyerah
lagi.
“mudah-mudahan
aja berhasil. AMIN” tambah ku lagi.
*********
Keesokan
harinya……
“moga-moga
berhasil” kata ku pada Tristan.
“pasti
berhasil” jawabnya enteng.
“dasar”
kata ku lagi.
Saat
tiba dirumahnya Riski kami langsung menghampiri satpam nya.
“siang
pak” sapa Tristan pada satpam rumah riski .
“loh,
kok balik lagi.” Kata satpam itu.
Oh
iya sebelumnya aku mau kasih tahu, semenjak kepergian riski beberapa bulan
yang
lalu. Orangtua riski memutuskan memperkerjakan seorang satpam dirumah.
Karena
rumah itu sering kosong dan paling cuma pembantu aja yang tinggal.
“gini
pak, izini kita napa pak ketemu ama riski” Tristan memohon.
“aduh,
gimana ya. Yaudah sebentar aja ya. Mumpung lagi nggak ada nyonya.
Sebentar
ya.” Satpam itu membukakan pintu gerbang untuk kami.
“ingat
sebentar ya.” Satpam itu mengingatkan.
“oke,
seppp” Jawab riski.
“liat
tris, itu riski’ aku menunjuk ke arah seseorang yang sedang duduk di taman
belakang.
“iya,
kayak nya dia baik-baik aja” Tristan menambah kan.
“aku
takut tan, nyamperinnya ntar kita dikejar-kejar pula.” Aku menggenggam
tangan
kanan Tristan.
“tenang
selama ada aku kamu bakalan baik-baik aja.” Gaya Tristan sok pahlawan.
Perlahan
kami mendekati riski.
Tiba-tiba
saja sosok itu menoleh ke belakang dan menatap kami berdua.
“gimana
nii, aku takut” aku mempererat genggaman tangan ku.
“udah
tenang, Ingat kita Cuma punya waktu sebentar aja” Tristan berbisik ke telinga
ku.
“riski”
sapa ku sambil melambaikan tangan ku.
“lisa…”
sahut nya.
Ya
ampun dia ingat nama ku, kirain kalau gila lupa segalanya.
Riski
tiba-tiba bangkit dari tempat duduk nya.
“aduh,
gimana nii” aku panik dan memejam kan kedua bola mata ku sangkin takut nya.
Thursday, 7 June 2012
Last Gift Part 18
Sudah hampir satu bulan aku dan
Tristan tidak menemukan riski. Riski hilang begitu saja bagai ditelan bumi. Tak
seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Begitu juga dengan orangtua nya dan
orang terdekat nya.
Paket-paket misterius itu juga tidak
pernah dikirim lagi.
“tan, aku benar-benar menyerah” kata
ku pada Tristan.
Hari ini Tristan seharian ada
dirumah menemani aku karena ibu menjemput ayah dibandara.
“iya aku juga” Jawab Tristan
menyetujui perkataan aku tadi.
“tapi untuk memastikan kembali
gimana kalau kita kerumah nya lagi besok.” Lanjut Tristan.
“yaudah terserah kamu aja.” Jawabku malas.
*********
“permisi” Tristan memanggil satpam
rumah itu.
“Tristan teman nya riski ya.” Kata
satpam itu.
“iya, mau tanya soal riski lagi pak”
kata Tristan .
“gini dik “ bapak itu membukakan
pagar rumah riski untuk kami.
“riski nya udah balik kemarin. Dia
baru aja dibawa pulang sama papa nya dari Amerika.” Bapak itu menjelaskan pada
kami.
“dia dari amerika?” Tristan bertanya
keheranan.
“iya, diam-diam dia pulang ke
amerika tanpa memberitahu siapa pun termasuk mama nya.” Jelas bapak itu lagi.
“maaf ya bapak nggak bisa izinkan kalian masuk, ini pesan nyonya mama nya den
riski buat nggak ngasih masuk teman-temannya riski.”
“nggak apa-apa kok” sahut ku lagi. “tapi kami boleh nanya-nanya
bapak ya soal riski.”
“boleh kok non” kata bapak itu.
“gini non, katanya den riski mengalami depresi berat dan membuat nya hampir
dikatakan gila.” Jelas bapak itu.
“apa?” aku terkejut. Aku dan Tristan saling pandang-pandangan.
“apa?” aku terkejut. Aku dan Tristan saling pandang-pandangan.
“riski gila” Tristan menambah kan.
“iya” lanjut bapak itu lagi. “uda
dulu ya, ntar bapak dimarahi nyonya.” Bapak
itu langsung menutup pagar rumah riski.
“maksih ya pak infonya?” kami
meninggalkan rumah riski.
Friday, 25 May 2012
Last Gift Part 17
Proses belajar mengajar sangat
membosan kan. Teman mengobrol nggak ada. Mata mulai celinga-celingu,
memperhatikan sekitar berharap seseorang akan muncul dari pintu dan mengatakan
hari ini kita libur selama 1 bulan, dikarenakan macet dijalan melanda kota ini.
Apa coba hubungan nya sekolah sama macet sama sekali nggak nyambung dan nggak
masuk akal.
Dewi fortuna kali ini benar-benar
tidak memihak pada ku. Ulangan bahasa prancis mendadak diadakan. Padahal aku
belum belajar sama sekali. “sial” aku menggerutu dalam hati. Baru aja sembuh
sakit, eh uda ada sakit lain melanda. Benar-benar tragis.
Ulangan pun dimulai. Saat ini soal
ada di depan mata. Aku mulai membolak-balikan soal dan membaca satu persatu.
Dan tak satu pun bisa ku artikan. Dengan kekuatan bintang aku pun mulai
menjawabnya. Aku tidak berharap itu semua akan benar. Akhrinya waktu yang ku
tunggu pun tiba. Bel istirahat pun berbunyi dan itu artinya ulangan mendadak
bahasa perancis berakhir.
Aku duduk di kantin sendirian, tidak
seperti biasa ditemani ke dua teman ku itu. Aku mulai berpikir ke mana aku
harus mencari mereka. Akhirnya aku mendapatkan ide untuk mencari mereka
sepulang sekolah nanti.
*********
“bu, lisa mau keluar sebentar. Boleh
ya?” Aku membujuk ibu yang sedang duduk diruang tamu.
“ya ampun lisa. Baru aja pulang
sekolah uda mau pergi lagi. Yaudah cepat pulang ya jangan malam kali
pulangnya.” Cerewet ibu.
“dah ibu.” Kata ku pada ibu.
Aku melintas di depan rumah
Tristan,dan memutuskan untuk masuk. Mana tahu aja tadi teristan pulang pas aku
sekolah. Aku mengetuk pintu itu berkali-kali. Memanggil-mangil nama Tristan.
Tak seorang pun menyahut dan membuka pintu itu. Pupus sudah harapan, rumah Tristan kosong. Aku membalikkan badan ku berjalan lambat ke arah
pagar Tristan. Tiba-tiba saja pintu rumah tristan terbuka. “seseorang telah membuka nya”
aku langsung membalikkan badan ku dan melihat orang yang membuka pintu itu
adalah Tristan.
“Tristan” aku terkejut. “aku
kiraiin, dirumah nggak ada orang” kata ku pada nya. Dia masih saja berdiri
di depan pintu tanpa ekspresi apa pun. “nii, anak kayak nya baru bangun tidur”
Pikir ku dalam hati.
“maaf ya Tristan kalau aku uda
ganggu tidur siang kamu. Ya udah aku balik dulu” aku berlari kecil keluar
pagarnya.
“gawat, bisa-bisa dia marah nii, gara-gara di ganggu,
terus nggak mau temani aku cari riski" aku berkata dalam hati kecil ku.
Saat berada di depan pagar Tristan aku
melihat kearah rumahnya sebentar. Aku masih melihat Tristan di depan pintu
dengan wajah kebinggungan. Mungkin dia kebingungan ngeliat tingkah ku tadi. Aku
berjalan masuk kembali ke rumah itu dengan perasaan takut.
“cewek aneh” celetuh Tristan.
“eh, siapa yang aneh kali. Kamu aja
tuh malas ke sekolah” kata ku pada nya.
“ada perlu apa kesini” Kata nya
lagi.
“mau minta temeni cari riski.” Kata
ku takut-takut.
“ya udah tunggu disitu aja” kata nya
meninggalkan ku didepan.
"lama ya" kata ku padanya.
"oh iya tan, kamu masih marah soal kemaren itu." tanya ku takut pada tristan.
"masih" kata nya tertawa.
"ih, kamu. Aku kan serius" Kata ku padanya.
"ih, kamu. Aku kan serius" Kata ku padanya.
Kami tertawa bersama..
Pencarian Riski di mulai….
Thursday, 17 May 2012
Last Gift Part 16
“Maaf ya bu.” Aku memeluk ibu. Aku
kembali lagi ke ruang tamu meminta maaf karena sudah mengabaikan ibu.
Lagi-lagi ibu tertawa kecil melihat
tingkah ku itu.
“emang tadi siapa lisa, yang datang”
ibu membereskan belanjaan nya.
“bukan siapa-siapa. Lisa aja nggak kenal” aku mengerutkan kening.
“ohhh, ya udah tiduran lagi sana.” Ibu menyuruh ku.
“nggak akh, malas tiduran terus. Ntar gemuk.” Aku tidak menyetujui ajakan ibu kali ini. “aku lapar” aku mengambil sepotong roti yang ada di atas meja makan.
“oh iya bu aku ke kamar ya” meninggalkan ibu di dapur sambil melahap habis roti yang ku ambil tadi.
“bukan siapa-siapa. Lisa aja nggak kenal” aku mengerutkan kening.
“ohhh, ya udah tiduran lagi sana.” Ibu menyuruh ku.
“nggak akh, malas tiduran terus. Ntar gemuk.” Aku tidak menyetujui ajakan ibu kali ini. “aku lapar” aku mengambil sepotong roti yang ada di atas meja makan.
“oh iya bu aku ke kamar ya” meninggalkan ibu di dapur sambil melahap habis roti yang ku ambil tadi.
“tunggu lis, bantuin ibu aja, kalau
emang udah ngerasa baikan” kata ibu.
“kayak nya aku sakit lagi deh bu. Ni
panas kan” aku memegang dahi ku.
“pegang deh bu” aku menarik tangan
ibu untuk memyentuh dahi ku.
“panas kan”
“alasan kamu aja”
“akh ibu tahu aja” Aku tertawa dan
berlari kecil ke kamar.
Keesokan harinya.
Keesokan harinya.
“ibu, aku berangkat sekolah ya.” Aku berpamitan pada ibu.
“bareng siapa? Tristan?
“nggak bu. Kayak nya naik angkutan
umum aja deh.”
“udah ibu antarin aja. Tunggu
sebentar”
“emang ayah kapan pulang nya sih
bu?”
“seminggu lagi.” Ibu menyahut dari
dalam rumah.
beberapa menit kemudian.
“bu, cepatan dong ntar aku terlambat
nii.”
“iya, ibu udah siap nii.” Tiba-tiba
ibu keluar.
“kok rapi amat cuma mau ngantar
aku.” Aku menatap ibu penuh tanda Tanya.
“sekalian mau kerumah tante rara,
kayak nya pulang malam. Kamu berani kan? Ibu
berkata seolah-olah aku masih anak
berusia 5 tahun yang takut ditinggalin
sendirian dirumah.
“ya ampun. Ya enggaklah bu.” Aku
pura-pura berani, padahal aku takut.
Selama di perjalanan aku dan ibu tidak
berkata sepatah kata pun.
sesampainya di sekolah aku mencium
tangan kanan ibu pertanda pamit.
*********
Pagi itu suasana di kelas nggak
seperti biasa, ada berita baru yang lagi
hangat di perbincangkan anak satu kelas.
Mereka membicarakan berita yang nggak aku tahu sama sekali. Ini karena
aku nggak masuk sekolah kemarin.
Aku menarik bangku untuk duduk.
“riski kok belum datang ya” aku
bertanya-tanya dalam hati.
Aku memberanikan diri bertanya pada
teman di depan ku.
“riski semalam datang?”
“nggak” jawabnya nya simple.
Aku memalingkan mata ku ke arah
sudut kelas tepatnya kearah meja
yang ada disudut sebelah kanan, dimana
itu adalah bangku nya Tristan.
Aku kembali bertanya pada teman ku.
Kali ini teman yang ada dibelakang ku mendapat giliran untuk ditanyai.
“eh, si Tristan semalam datang” aku
bertanya padanya.
“nggak” lagi-lagi jawaban yang
simple, tanpa basa basi.
“kok mereka nggak pada datang ya”
aku kembali bertanya dalam hati.
Kira-kira siapa lagi yang mendapat
giliran untuk ditanyai oleh ku. Dan ternyata kali ini via mendapat
giliran. Wajahnya berubah saat aku mulai
mendekatinya.
Maksud hati ingin bertanya ada
berita apa yang membuat kelas menjadi heboh.
Tapi belum sempat ditanyai si via
langsung kabur aja.
Untuk hari ini ku urungkan niat
untuk bertanya pada teman ku. Bel masuk berbunyi, les pertama berlangsung.
Saturday, 28 April 2012
Last Gift Part 15
Hari ini aku menghabiskan waktu ku
di kamar berbaring lemah.
Telepon genggam ku matikan. Aku
ingin membuat mereka khawatir dan menjenguk ku ke rumah, Tapi tak seorang yang
ku tunggu itu datang.
“Tristan benar-benar nggak jemput
aku, nggak jenguk aku juga.” Pikirku dalam hati.
“riski juga” aku cemberut di kamar sendirian.
“riski juga” aku cemberut di kamar sendirian.
“lisa, ibu sebentar ke apotik ya”
ibu menghampiri ku di kamar.
“iya, jangan lama-lama ya bu” aku berkata pada ibu.
ibu memegang dahi ku “udah nggak panas kayak tadi, nggak usah jadi kedokter ya. Minum obat juga ntar turun.” Ibu meninggalkan ku dikamar sendiri.
“iya, jangan lama-lama ya bu” aku berkata pada ibu.
ibu memegang dahi ku “udah nggak panas kayak tadi, nggak usah jadi kedokter ya. Minum obat juga ntar turun.” Ibu meninggalkan ku dikamar sendiri.
“ibu, tadi ada nggak yang cariin pas
aku tidur.” Aku bertanya pada ibu dengan suara agak di keras ku supaya ibu
mendengar ku.
“nggak ada” ibu menyahut.
“ibu, pergi ya lisa” samar-samar ku dengar.
“nggak ada” ibu menyahut.
“ibu, pergi ya lisa” samar-samar ku dengar.
“iya” sahut ku pelan.
Aku beranjak dari tempat tidur,
untuk menonton tv. Saat asyik menonoton tv suara ketukkan seseorang terdengar.
“siapa” sahut dari dalam itu.
orang itu terus mengetuk pintu,
“iya, sebentar” aku berjalan dengan sedikit pusing.
Aku membuka pintu itu. Aku melihat wanita cantik berdiri
membelakangi ku.
“cari siapa” Tanya ku pada nya.
dia membalikkan badan nya “ini rumah lisa” kata nya lagi.
“cari siapa” Tanya ku pada nya.
dia membalikkan badan nya “ini rumah lisa” kata nya lagi.
“iya benar” kata ku lagi.
“aku tika” katanya mengulur kan
tangannya.
“aku lisa” kata ku menjabat tangan
nya kembali.
Kami saling berjabat tangan dan
berpandangan.
“ayo masuk” aku mengajak nya untuk masuk.
“ayo masuk” aku mengajak nya untuk masuk.
“sebentar saya ambilkan minum dulu.”
“nggak usah repot-repot” katanya
“nggak apa-apa” aku meninggalkan nya di ruang tamu.
aku kembali dengan membawa dua cengkir teh.
“nggak apa-apa” aku meninggalkan nya di ruang tamu.
aku kembali dengan membawa dua cengkir teh.
“ayo diminum” aku menyodorkan nya
teh itu.
“ada apa ya, apa aku sebelumnya
mengenalmu” aku memberanikan diri bartanya.
“nggak, kita memang belum pernah bertemu” dia berkata dengan sopan.
“jadi, kamu kok bisa kenal sama saya.” Aku bertanya lagi.
“nggak, kita memang belum pernah bertemu” dia berkata dengan sopan.
“jadi, kamu kok bisa kenal sama saya.” Aku bertanya lagi.
“jadi begini, aku pacar nya riski.”
Kata nya lagi.
“apa” pikirku dalam hati. “riski
punya pacar? “ aku bertanya-tanya dalam hati.
hingga wanita cantik itu membuyarkan lamunan ku.
“dia nggak pernah cerita sama kamu ya.” Dia bertanya.
“iya” kata ku sedikit gugup.
“dia selalu cerita soal kamu” katanya lagi.
“jadi apa gerangan kamu datang kesini” aku bertanya dengan serius.
“beberapa hari ini riski tidak bisa di hubungi, saya sudah kerumahnya tapi kata pembantu nya dia tidak pulang sejak kemarin pagi. Jadi saya kira dia bersama mu.
Wanita itu menjelaskan pada ku.
“kemarin kami memang bersama. Trus waktu pulang kami berpisah dan aku nggak tahu lagi setelah itu dia kemana” kata ku lagi.
“jadi, kamu benar-benar tidak tahu.” Kata wanita itu.
“tidak “ kata ku.
hingga wanita cantik itu membuyarkan lamunan ku.
“dia nggak pernah cerita sama kamu ya.” Dia bertanya.
“iya” kata ku sedikit gugup.
“dia selalu cerita soal kamu” katanya lagi.
“jadi apa gerangan kamu datang kesini” aku bertanya dengan serius.
“beberapa hari ini riski tidak bisa di hubungi, saya sudah kerumahnya tapi kata pembantu nya dia tidak pulang sejak kemarin pagi. Jadi saya kira dia bersama mu.
Wanita itu menjelaskan pada ku.
“kemarin kami memang bersama. Trus waktu pulang kami berpisah dan aku nggak tahu lagi setelah itu dia kemana” kata ku lagi.
“jadi, kamu benar-benar tidak tahu.” Kata wanita itu.
“tidak “ kata ku.
Wanita itu berpamitan pulang setelah
selesai mewawancarai aku. Wanita itu seperti reporter saja.
Dengan kedatangan wanita itu secara tiba-tiba membuat keadaan ku semakin buruk saja. Apalagi ditambah dengan kebaradaan riski yang tidak diketahui.
Dengan kedatangan wanita itu secara tiba-tiba membuat keadaan ku semakin buruk saja. Apalagi ditambah dengan kebaradaan riski yang tidak diketahui.
Aku masih duduk terdiam diruang
tamu.
Suara langkah kaki mendekat kearah
rumah ku, “ ibu pulang” kata seseorang
itu dan ternyata itu adalah ibu.
“loh, lisa ngapain disini. Aturan kamu tiduran di kamar” ibu pulang-pulang langsung menasehati aku. “baru ada tamu ya” ibu melihat dua cangkir yang ada diatas meja yang belum aku kembalikan ke dapur.
“ntah, nggak tahu.” Aku kembali kekamar meninggalkan ibu yang masih berdiri di dekat pintu keheranan melihat tingkah ku.
Bersambung......
“loh, lisa ngapain disini. Aturan kamu tiduran di kamar” ibu pulang-pulang langsung menasehati aku. “baru ada tamu ya” ibu melihat dua cangkir yang ada diatas meja yang belum aku kembalikan ke dapur.
“ntah, nggak tahu.” Aku kembali kekamar meninggalkan ibu yang masih berdiri di dekat pintu keheranan melihat tingkah ku.
Bersambung......
Subscribe to:
Posts (Atom)
Review ala-ala Kim Ji Young Born 1982
Apa kabar kalian semua? Ku harap kalian baik-baik saja. Selamat menjalani hari ini dan hari-hari selanjutnya dengan kegembiraan :'...
-
Post kali ini kelanjutan gambar balok beraturan yang pertama dan kedua. Bedanya yang ketiga ini digambarnya di buku gambar waktu mat...
-
Setelah kemarin ngepost cerita. Hari ini ngepost gambar doraemon yang sudah di gambar di kertas :) Ini gambar berbagai ekspresi do...
-
Haloooooo… Haloooooo… test test. Setelah beberapa minggu lalu ngshare tentang daulat kali ini mau kembali ke jalur awal. A...

