Monday, 25 June 2012

A Last Gift Part 20


Di taman belakang rumah riski.
“aduh, gimana nii” aku panik dan memejam kan kedua bola mata ku, aku takut.
“lisa, mafin aku ya” kata riski mendekat ke telinga ku. Dia berbisik.
“maaf kenapa?”  aku memberanikan diriku bertanya. Kalau dilihat-lihat riski nggak kelihatan mengalami depresi yang amat berat dan membuatnya hampir dikatakan gila. Dia baik-baik aja.
“maaf karena aku uda bohongi kalian berdua” Aku dan Tristan saling pandang.
“maksudnya  apa?” Tristan bertanya pada riski yang sedang duduk membelakangi kami.
“ Mungkin ini waktu yang tepat buat kalian tahu yang sebenarnya.   Sebenarnya, yang ngirimin kamu paket selama ini itu. AKU.” kata riski jujur. Pengakuan riski itu membuat ku sangat terkejut. Bagaikan tersambar petir disiang bolong.
“jadi selama ini yang ngirimin aku paket mengerikan itu kamu” kata ku tenang. Aku mencoba tenang. Aku tahu pasti dia punya alasan melakukan itu.
“riski, kamu benar-benar sudah gila” kata Tristan marah, Tristan menarik kerah baju riski. “apa kamu nggak kasihan ngeliat lisa saat dia menerima paket-paket  itu, riski kamu uda buat lisa itu takut”
“tenang Tristan” aku melepas kan tangan Tristan dari kerah baju riski.
“aku memang sudah gila tan, gila karena dia.” Tristan menunjuk aku.
“gara-gara dia, nina kecelakaan. Gara-gara dia juga aku berpisah dengan nina. Dialah penyebabnya. Kalau bukan karena mau menemui lisa, pasti malam itu nina nggak bakalan kerumah lisa dan akhrinya dia…..”  riski kembali tenang dan tak mampu melanjutkan kata terakhirnya itu.
“Tristan, nina yang kamu lihat malam sebelum kecelakaan itu baru saja menemui ku. Dia marah karena aku mengikutinya. Aku melakukan itu karena aku mempunyai firasat buruk. Tapi apa!! dia marah, dan meninggalkan ku dan akhirya…. Bahakan aku belum sempat minta maaf padanya.” 
“maaf kan aku riski kalau kamu berpikir memang aku penyebabnya” kataku pada riski.
“bukan begitu lisa. Yang seharusnya minta maaf itu AKU. aku uda membuat mu takut. Apalagi aku uda ngilang gitu aja tanpa pamit pada kalian,udah buat kalian khawatir.”
“siapa juga yang khawatir sama mu.” Kata Tristan. Padahal dia kan juga nyariin si riski.
“maafkan aku” kata riski lagi.
“tidak apa-apa. aku uda maafin kamu riski.” Kata ku.
“makasih lisaa” kata riski.
“oh iya. Soal kamu ke amerika dan pulang-pulang…..” kata tristan pada riski. Sepertinya Tristan tidak berani melanjutkan kata-kata terakhirnya.
Riski hanya tertawa, “aku memang ke amerika, untuk menenangkan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu ini. Tapi kalau soal itu aku hanya berpura-pura saja, supaya nggak ditanya-tanyai sama mereka” Kata riski
“ooohhhh” serentak aku dan Tristan berkata.
“sekarang kita udah tau kalau paket-paket itu berasal dari riski. Dan nggak perlu di masalahkan lagi. Tinggal di buang aja.” Kata  Tristan.
“soal buku harian nina itu?” kata ku tiba-tiba.
“itu buat kamu aja.” Kata riski. “anggap saja semua itu paket terakhir pemberian nina” tambah riski lagi.
Kami bertiga tertawa bersama. Sampai-sampai tidak ingat pesan satpam tadi “sebentar aja ya”.
Semuanya kembali seperti biasa, aku dan hidup ku.  Entah kenapa aku nggak bisa marah sama riski atas perbuatan nya itu, mungkin karena dia adalah saudara kembar nina. Setiap melihat riski aku selalu melihat bayang-bayang nina.
Aku dan sahabat-sahabat ku itu melanjutkan hidup kami dengan penuh kebahagian.
Semua itu biarkan lah berlalu semua akan indah pada waktunya.
We are always happy because we live in the nature.
Dan mereka akhirnya hidup bahagia.



THE END



Akhirnya Setelah lama berpikir  ketemu juga akhir cerita a last gift. Semoga pembaca suka dengan akhir cerita nya.

No comments:

Post a Comment

Pendakian Pertama

Yaps, bulan Mei tahun lalu tahun 2017 di salah satu sudut ruangan kantor, kalau gak salah ingat, hihi kami bertujuh sedang membicaraka...