Thursday, 17 May 2012

Last Gift Part 16


“Maaf ya bu.” Aku memeluk ibu. Aku kembali lagi ke ruang tamu meminta maaf karena sudah mengabaikan ibu.
Lagi-lagi ibu tertawa kecil melihat tingkah ku itu.

“emang tadi siapa lisa, yang datang” ibu membereskan belanjaan nya.
“bukan siapa-siapa. Lisa aja nggak kenal” aku mengerutkan kening.
“ohhh,  ya udah tiduran lagi sana.” Ibu menyuruh ku.
“nggak akh, malas tiduran terus. Ntar gemuk.” Aku tidak menyetujui ajakan ibu kali ini. “aku lapar” aku mengambil sepotong roti yang ada di atas meja makan.
“oh iya bu aku ke kamar ya” meninggalkan ibu di dapur sambil melahap habis roti yang ku ambil tadi.
“tunggu lis, bantuin ibu aja, kalau emang udah ngerasa baikan”  kata ibu.
“kayak nya aku sakit lagi deh bu. Ni panas kan” aku memegang dahi ku.
“pegang deh bu” aku menarik tangan ibu untuk memyentuh dahi ku.
“panas kan”
“alasan kamu aja”
“akh ibu tahu aja” Aku tertawa dan berlari kecil ke kamar.
Keesokan harinya.
“ibu, aku berangkat sekolah  ya.” Aku berpamitan pada ibu.
“bareng siapa? Tristan?
“nggak bu. Kayak nya naik angkutan umum aja deh.”
“udah ibu antarin aja. Tunggu sebentar”
“emang ayah kapan pulang nya sih bu?”
“seminggu lagi.” Ibu menyahut dari dalam rumah.
beberapa menit kemudian.
“bu, cepatan dong ntar aku terlambat nii.”
“iya, ibu udah siap nii.” Tiba-tiba ibu keluar.
“kok rapi amat cuma mau ngantar aku.” Aku menatap ibu penuh tanda Tanya.
“sekalian mau kerumah tante rara, kayak nya pulang malam. Kamu berani kan? Ibu
berkata seolah-olah aku masih anak berusia 5 tahun yang takut ditinggalin
sendirian dirumah.
“ya ampun. Ya enggaklah bu.” Aku pura-pura berani, padahal aku takut.
Selama di perjalanan aku dan ibu tidak berkata sepatah kata pun.
sesampainya di sekolah aku mencium tangan kanan ibu pertanda pamit.

*********


Pagi itu suasana di kelas nggak seperti biasa,  ada berita baru yang lagi hangat di perbincangkan anak satu kelas.  Mereka membicarakan berita yang nggak aku tahu sama sekali. Ini karena aku nggak masuk sekolah kemarin.

Aku menarik bangku untuk duduk.
“riski kok belum datang ya” aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku memberanikan diri bertanya pada teman di depan ku.
“riski semalam datang?”
“nggak” jawabnya nya simple.
Aku memalingkan mata ku ke arah sudut kelas tepatnya kearah  meja yang  ada disudut sebelah kanan, dimana itu adalah bangku nya Tristan.

Aku kembali bertanya pada teman ku. Kali ini teman yang ada dibelakang ku mendapat giliran untuk ditanyai.
“eh, si Tristan semalam datang” aku bertanya padanya.
“nggak” lagi-lagi jawaban yang simple, tanpa basa basi.

“kok mereka nggak pada datang ya” aku kembali bertanya dalam hati.

Kira-kira siapa lagi yang mendapat giliran untuk ditanyai oleh ku. Dan ternyata kali ini via mendapat giliran.  Wajahnya berubah saat aku mulai mendekatinya.
Maksud hati ingin bertanya ada berita apa yang membuat kelas menjadi heboh.
Tapi belum sempat ditanyai si via langsung kabur aja.

Untuk hari ini ku urungkan niat untuk bertanya pada teman ku. Bel masuk berbunyi, les pertama berlangsung.



No comments:

Post a Comment

Pendakian Pertama

Yaps, bulan Mei tahun lalu tahun 2017 di salah satu sudut ruangan kantor, kalau gak salah ingat, hihi kami bertujuh sedang membicaraka...