Sunday, 17 June 2012

Last Gift Part 19


Setelah pulang dari rumah riski aku masih saja memikirkan hal tadi.
Aku dan Tristan sibuk dengan pikiran kami.
“Riski gila” pernyataan itu masih saja menghantui pikiranku. Aku benar-benar tidak tenang.
“lis, nggak mungkin kan riski gila. Lisa,lisa”
“haloo lisa” Tristan melambaikan tangan nya ke hadapan wajah ku.
“apaan sih” aku menepis tangan Tristan yang ada di hadapan wajah ku.
“iya, aku juga lagi mikirin itu. Masa iya dia gila, akh nggak mungkin ” kata ku tidak percaya.
“kayaknya kita mesti pastiin sendiri lis” Tristan berlaga sok pintar.
“kan tadi kamu dengar sendiri kalau kita teman-temanya riski nggak di bolehin masuk, kalau masuk aja nggak dikasih cemana mau mastiin nya.” Aku menarik pelan rambut Tristan.
“sakit lis” aku melepaskan tangan ku dari rambut Tristan.
“makanya kalau ngasih ide itu cermelang dikit.” Cerocos ku.
“lis, sediain minum napa?” protes Tristan.
“iya, iya ntar” aku meninggalkan Tristan di teras
Setelah beberapa menit…
“lama amat” protes Tristan.
“mending aku ambilin” cerocos ku lagi.
“iya maaf…maaf” tawa Tristan.
“yaudah kembali ke topik, “ kata ku pada Tristan.
“besok kita balik aja ke rumah nya si riski, kan gampang.” Kata Tristan.
“kalau ntar kita nggak di kasih masuk kamu mau bilang apa WAH gitu?” kataku
sebel.
“kan mana tahu mama nya si riski kesambet apa gitu jadi baik dan ngizini kita
masuk” Jawab Tristan nggak mau kalah.
“itu pun kalau dewi fortuna memihak kita” kata ku.
“usaha dong, semakin kita sering muncul dirumah si riski. Pasti satpam rumah
bosan ngeliat kita dan ngizini kita masuk.” Jelas Tristan lagi.
“nggak masuk akal banget. Ya uda deh terserah kamu aja” kali ini aku harus menyerah lagi.
“mudah-mudahan aja berhasil. AMIN” tambah ku lagi.
*********
Keesokan harinya……
“moga-moga berhasil” kata ku pada Tristan.
“pasti berhasil” jawabnya enteng.
“dasar” kata ku lagi.
Saat tiba dirumahnya Riski kami langsung menghampiri satpam nya.
“siang pak” sapa Tristan pada satpam rumah riski .
“loh, kok balik lagi.” Kata satpam itu.
Oh iya sebelumnya aku mau kasih tahu, semenjak kepergian riski beberapa bulan
yang lalu. Orangtua riski memutuskan memperkerjakan seorang satpam dirumah.
Karena rumah itu sering kosong dan paling cuma pembantu aja yang tinggal.
“gini pak, izini kita napa pak ketemu ama riski” Tristan memohon.
“aduh, gimana ya. Yaudah sebentar aja ya. Mumpung lagi nggak ada nyonya.
Sebentar ya.” Satpam itu membukakan pintu gerbang untuk kami.
“ingat sebentar ya.” Satpam itu mengingatkan.
“oke, seppp” Jawab riski.
“liat tris, itu riski’ aku menunjuk ke arah seseorang yang sedang duduk di taman
belakang.
“iya, kayak nya dia baik-baik aja” Tristan menambah kan.
“aku takut tan, nyamperinnya ntar kita dikejar-kejar pula.” Aku menggenggam
tangan kanan Tristan.
“tenang selama ada aku kamu bakalan baik-baik aja.” Gaya Tristan sok pahlawan.
Perlahan kami mendekati riski.
Tiba-tiba saja sosok itu menoleh ke belakang dan menatap kami berdua.
“gimana nii, aku takut” aku mempererat genggaman tangan ku.
“udah tenang, Ingat kita Cuma punya waktu sebentar aja” Tristan berbisik ke telinga ku.
“riski” sapa ku sambil melambaikan tangan ku.
“lisa…” sahut nya.
Ya ampun dia ingat nama ku, kirain kalau gila lupa segalanya.
Riski tiba-tiba bangkit dari tempat duduk nya.
“aduh, gimana nii” aku panik dan memejam kan kedua bola mata ku sangkin takut nya.




No comments:

Post a Comment

Pendakian Pertama

Yaps, bulan Mei tahun lalu tahun 2017 di salah satu sudut ruangan kantor, kalau gak salah ingat, hihi kami bertujuh sedang membicaraka...