Thursday, 6 October 2011

Last Gift part 8


"pintar ya.." aku menepuk pundak tristan..
"aku kan memang pintar” percaya diri kali kamu Tristan kata ku pelan. "mulas perut ku dengar nya." aku bercanda di sela keseriusan mereka berdua.
"tutup saja telinga kamu" kata riski menyambung.
ini anak dari kemaren kok sensitive kali sama aku. Heren deh. Dasar aneh. Membosan kan pagi itu bagi ku yang biasanya online kali ini tidak. Gara-gara kedua detektive yang ada di rumah ini. Aku bersandar di sofa ku sambil memejam kan kedua mata ku. Pagi ini aku masih mengantuk.

Tiba-tiba suara tristan berteriak ke arah wajah manis ku ini. "woi, bangun." kata nya pada ku. "aku terkejut tahu, aku tidak tidur tahu. cuma memejamkan mata saja." tristan ini uda gila kali teriak-teriak di depan wajah aku, napas nya bau lagi.
waktu uda menunjukkan pukul 11. Satu pun tanda-tanda orang datang tidak ada. "aku mau ke dapur dulu ya, mau minum." aku meninggalkan mereka di ruang tamu. Hari ini ibu tidak dirumah. Ibu dan ayah sedang pergi ke luar. Mereka pergi setelah aku bangun tadi dan selesai mandi.  Jadi aku di tinggal sendiri di rumah di temani dua orang sahabat ku. "mau minum apa" tanya aku pada mereka berdua. "apa aja yang penting segar." sahut riski.

"ini minumannya" aku sodorkan dua gelas air kepada mereka.
Tiba-tiba saja Handphone tristan berdering. "lisa, tolong angkat kan".
"mama mu" sahut aku lagi.
"halo, ma". ku serahkan handphone nya. "ada apa."
"apa pulang, tidak bisa sibuk" Sahutnya lagi.
"baiklah.." kata tristan menyerah.
"riski, aku pulang duluan ya, ada urusun ini." tristan menepuk punggung riski yang sedang meminum minuman yang aku sodorkan tadi."ya sudah, hati-hati" katanya pada tristan. "lisa pulang ya." pamitnya pada ku.
"masa mau ninggalin aku sendiri"
"kan ada riski. Riski jagain lisa ya" kata tristan pada riski dan bergegas pulang.
Mungkin tristan lagi ada urusan keluarga. Biasanya kan dia tidak mau meninggalkan aku kalau aku sendirian di rumah. Aku takut kalau sama riski. Akhir-akhir ini sikap nya itu berubah.
"mau makan apa riski, biar aku ambilin." Tanya ku padanya yang terus mengamati luar rumah. "ga usah repot-repot. aku lagi tidak lapar."
"oh, ya sudah, kalau mau apa-apa bilang aku aja." aku mencoba ramah padanya.

Hari ini terik sekali, suasana panas. Orang yang di tunggu tak kunjung datang. Namun ada sesok pria yang terus mengamati rumah ku. Aku pikir orang itu bukan orang yang tinggal di sekitar sini. "riski, lihat lah pria itu dari tadi aku perhatikan dia mengamati rumah ku terus."
"yang mana. Pria itu ya. Mungkin saja dia orang nya. Kita lihat saja dulu." sembil mencari sosok yang aku katakan.
"lihat dia membuka pagar rumah ku." aku panik dan takut sekali saat ini. "jangan takut, lisa. Tenanglah. kan ada aku." riski mencoba menenangkan ku.
"lihat dia meletakkan sesuatu di depan pintu rumah ku. ayo kita keluar sekarang kita tangkap orang itu." kata ku pada riski. "sabar, jangan gegabah" riski menarik tangan ku. "waktunya".
saat kami membuka pintu orang tersebut langsung berlari sekencang mungkin dan hilang dengan sangat kencang. riski mengejar pria tersebut. aku membuka paket itu dan aku terkejut melihat buku harian  yang sebelumnya aku pernah liat. "ini kan buku harian nina" kata ku dalam hati.

Riski kembali dengan nafas yang tidak teratur. "ini minum" aku menyodorkan segelas air padanya. Aku memberanikan diri ku menanyakan tentang buku harian nina. "riski,aku boleh tanya sesuatu. Jangan marah ya" kata ku pada nya. "mau tanya apa?" Sahutnya. "kamu janji kan mau tunjuki pada ku isi buku harian  nina, mana?" Tanya ku hati-hati. "maaf, lisa. buku itu hilang kemarin" Katanya sedikit kecewa. "hilang" aku terkejut sekali.
“kok bias hilang?” Tanya ku hati-hati.
“kemarin,pas mau kerumah kamu ngatar buku itu. Aku menabrak seseorang yang sedang berjalan didepan gg rumah kamu, eh bukunya jatuh. Udah aku cariin sekitar situ, nggak Nampak. Aku tidak mengatakan apa pun soal paket tadi yang berisi buku harian nina. "apa isi paket tadi?" Tanya riski tiba-tiba. "e,ee kosong juga seperti biasa." jawab ku gugup. "kosong ya" riski kecewa.

aku beranikan lagi diri ku bertanya " riski, apa aja yang tetulis di buku itu. ".
"aku tidak tahu pasti, aku hanya membaca sedikit hanya beberapa halaman saja."
"begitu ya" aku bingung apa kah aku harus kata kan kalau aku mendapat kan buku harian nina.
"maaf ya lisa sebelumnya aku curiga melihat gerak-gerik tristan" kata riski hati-hati pada ku.
"kenapa bilang gitu. Aku uda lama kenal sama dia bahkan sebelum aku mengenal nina. emang nya ada apa riski."
"tidak ada apa-apa" Kata nya lagi pada ku.

Siang itu riski tertidur di sofa rumah ku hingga sore. Mungkin akibat efek kelelahan karena tadi mengejar pria itu. Saat tidur aku terus mengamatinya. Wajahnya mirip sekali dengan nina.
Aku terus mengamatinya hingga dia terbangun.
“apa, liat-liat.” Katanya pad ku.
"tidak ada apa-apa." Jawabku gugup.
"ganteng ya aku waktu sedang tidur" candanya pada ku.
ini anak percaya dirinya besar banget, iya sih ganteng sih ganteng. ya aku kok jadi begini.
"lapar" Kata riski lagi pada ku. "ibu kamu uda pulang?'" tanya nya lagi.
"blom. Mungkin ntar malam. kamu lapar ya, mau makan apa.biar aku buatim."
"apa aja deh yang penting enak di makan." dia pergi meninggalkan ku dan berlari ke ruang tengah untuk menonton.

"ini makanannya" ku sodorkan makanan yang telah ku buatkan untuk nya. "letakkan disana aja" Katanya lagi. "di makan dong, kan aku capek membuatnya." aku sedikit kesal dengan nya. "baiklah, aku makan. wah, enak. kamu pandai memasak juga ya." riski mencubit kedua pipi ku. "sakit tahu" aku mengelus kedua pipi ku yang tadi di cubit riski. Perasaan ku malam itu bercampur aduk.




Bersambung........

No comments:

Post a Comment

Pendakian Pertama

Yaps, bulan Mei tahun lalu tahun 2017 di salah satu sudut ruangan kantor, kalau gak salah ingat, hihi kami bertujuh sedang membicaraka...