Saturday, 8 October 2011

My Best Friend My Life Giver Part 6

"riska aku sudah terlambat.." Aku mulai meneteskan air mata ku.
"sunny..." riska pun mulai meneteskan air mata juga.
"kalian, temannya den Felix kemarin kan" tiba-tiba seorang wanita yang sepertinya kami kenal menghampiri kami. "iya, bu." riska menyahut.
"non sunny yang mana ya," Tanya wanita itu.
"saya bu," ku hapus air mata ku.

"bu, boleh ceritakan ke kami apa yang terjadi sama felix" Tanya riska juga.
"ayo masuk dulu"
aku tidak sanggup melangkahkan kaki ku menuju rumah itu, setelah apa yang terjadi kemarin. Kini penyesalan meliputi diri ku. Aku sungguh sangat menyesal. sekarang aku sudah berada di taman belakang rumah besar itu.

"kesini non, bibi akan ceritakan awal kejadian nya"
"baik bi,"
"kemarin setelah non sunny pulang, Penyakit den Felix kambuh. Tapi dia tetap saja ingin mengejar non ke rumah, padahal saat itu kondisi nya sangat buruk. Saat di perjalanan den Felix pingsan. Saat di bawah ke rumah sakit kondisi nya kritis." wanita itu mulai meneteskan air mata.
Perlahan-lahan air mata ku dan riska mulai terjatuh.
" Saat kondisi nya kritis den Felix sempat sadar, dia meminta saya menelpon anda. Tapi anda tidak mengangkat telpon itu."
aku mengingat-ingat kejadian itu. Memang benar Felix sempat mnelpon ku berkali-kali, tapi aku tidak mengangkatnya aku mengabaikan nya. Padahal itu terakhir kali nya aku bisa berbicara dengan nya.
"lalu Felix menyuruh saya mengirimkan pesan terakhir nya pada anda. Tapi anda tidak membalasnya."
Aku juga ingat saat pesan felix masuk aku langsung menghapusnya tanpa sempat membaca pesan itu. rasa bersalah terus meliputi ku.
"isi pesan nya apa , bi? tanya riska.
"den Felix cuman mengatakan minta maaf. Di detik-detik terakhir Den Felix memberikan saya ini. Dia menyuruh saya memberikan ini pada anda non sunny."
"ini, apa ini bi." Tanya ku.
"saya tidak tahu, Den Felix melarang saya membuka nya."
"makasih nya bi." Kata riska.
"oh iya. Den Felix selalu menceritakan anda non Sunny. Baginya anda adalah sosok sahabat yang sangat berharga. Bahkan dia rela menyembunyikan identitas nya dan menyamar menjadi orang biasa untuk berteman dengan anda."
"dia juga menceritakan masa-masa kalian bersama dulu. Dia juga minta maaf karena dia telah meninggalkan anda sendiri saat itu dan menyembunyikan identitasnya. Saat itu dia harus pergi dengan ayah nya untuk menerima donor mata. Setelah dia kembali dia mencari-cari anda. Dia bertekad, orang yang pertama sekali harus dilihatnya adalah anda"
"oh iya, kalau kami boleh tahu Felix sakit pa?" Tanya riska lagi.
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Aku selalu terniang kenang-kenangan ku dulu bersama felix. Bagi ku juga Felix adalah sahabat yang paling berharga melebihi apapun.
"kanker non. Saya tidak tahu pasti dia sakit kanker apa. Den Felix ga pernah mengelu sakit. Dia menyembunyikan penyakitnya dari keluarganya. Kabar nya juga den felix nggak cerita kalau dia sudah mendonorkan salah satu ginjalnya pada seseorang. Kami juga baru tahu hal itu.
Kalau begitu mari saya antar ke depan. kalian harus lihat Felix untuk terakhir kalinya.
Aku dan Riska saling bertatapan. "nggak usah diantar,bi. Kami sendiri saja. makasih ya bi."
"sama-sama non." Kata wanita itu.

“Felix nggak pernah cerita kepada keluarganya kalau dia mendonorkan salah satu ginjalnya pada ku” bisikku dalam hati
Wanita itu meninggalkan kami berdua di taman itu. Aku langsung memeluk erat riska dan menanggis sekuat-kuat nya.
"sudah lah sunny. Ini sudah terlambat, tidak ada lagi yang perlu di sesali. Ayo kita kedepan."
Aku mengikuti riska dari belakang. Kaki ku terasa berat melangkahkan kaki.

saat tiba di depan.
Aku melihat sosok Felix yang sedang terbaring. Felix terlihat sangat kaku. Dia seperti saat dia sedang tidur, begitu nyaman  Wajah nya tersenyum, Perlahan-lahan aku medekat dan menatapnya.
"maafkan aku. Aku sangat menyayangi mu." Bisikku. Dan aku mulai menjatuhkan air mata ku lagi.

***********
Esok harinya aku mengikuti pemakaman Felix. Kotak pemberian Felix itu belum ku buka. Aku belum berani membuka nya. Untuk melepaskan kepergian Felix  untuk selama-lamanya, Aku tersenyum padanya untuk terakhir kali dan memberinya bunga kesukaannnya.
"sunny, ayo kita pulang" Kata ibu pada ku.
"sebentar aku masih mau disini"
"ibu, tunggu kamu di mobil"
"baiklah." Kata ku.
Pemakaman pun berakhir aku pulang bersama ibu.

No comments:

Post a Comment

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...