Thursday, 16 February 2012

Last Gift Part 11

Hampir 1 bulan nggak ngepost lagi.
Ini nii mau ngelanjuti cerita last gift nya.


"Ngapain kerumah mu tan" Tanya ku.
"loh,kok nanya lagi sih, Tapi katanya mau oleh-oleh?" jawab tristan.
"boleh juga tuh, ya udah ayo. Sekarang kan." riski beranjak dari tempat duduk nya seolah ingin segera memijak kan rem dan melaju kencang ke rumah tristan menghabiskan semua makanan yang ada disana.
"dasar....Kalau makan aja nomor satu" kata ku pada tristan.
Tristan hanya tertawa kecil."itu apa?" Tanya nya seraya menunjuk kearah paket yang ada diatas meja.
"Paket itu lagi ya?" Katanya kesal.
"udahlah, nanti kita bicarakan. Sekarang kita makan dulu" kata riski yang dari tadi sudah menunggu di pagar rumah.
"makanan aja yang dipikirin." ketus ku.
"Ya iya lah." Jawab nya lagi menambah kekesalan ku pada nya.
“kamu nggak jadi traktir aku?” kata ku pada riski.
“ngapain, orang udah ada banyak makanan” riski meledek ku.
Liat aja tuh anak.

***********
Saat berada dirumah Tristan begitu banyak oleh-oleh yang dibwa nya.
"wah, bisa kenyang nii makan ini semua" riski mengambil salah satu makanan yang ada diatas meja rumah tristan. Aku memukul pelan kepalanya."dasar" kata ku.
"oh iya tristan keluarga kamu yang lain pada kemana?" tanya ku penasaran. "tumben nggak seramai biasanya?"
"iya mereka pada belom pulang, masih disana menemani nenek?" jawab nya.
"jadi kamu kok pulang duluan?" tanya ku penasaran lagi.
"aku kangen ama kamu" Kata nya lagi.
"ahhhahhhha" aku hanya tertawa mendengarnya berbicara itu.
"jadi nggak kangen nii sama ku?" riski menyambung dengan mulut berisi penuh makanan.
"iya aku juga kangen sama mu??" katanya terpaksa.
"aku sebentar ya balek kerumah, ada yang mau aku ambil" Kata ku seraya meninggalkan mereka berdua disana.


"lisa, cepat kali balek nya?" kata riski pada ku.
"sibuk lah" Kata ku.

Beberapa menit kemudian.
"aku ngambil paket ini nii" menunjukkan paket yang ada dikedua tangan ku. "perdebatan akan di mulai". Aku berkata lagi.
"oh iya apa isi paket itu lis,?' tanya tristan.
"ini, foto-foto nina." kata ku pada tristan.
"APA? foto nina" Kata riski tiba-tiba mengejutkan ku."ni anak bikin orang terkejut aja" bisik ku. padahal dia udah tahu, tapi pura-pura nggak tahu dan membuat jantung orang mau copot gara-gara teriakkan nya itu

"lisa, coba aku lihat fotonya?" Aku memberikan salah satu foto yang mungkin tristan tahu.
Tristan menerima foto itu dan seketika raut wajah nya berubah "ini kan,?"
"iya" kata ku memotong perkataannya, seakan aku mengetahui apa yang akan ia kata kan.

"foto ini diambil di simpang gang rumah kita lisa. Mungkin ini saat terakhir nina ingin bertemu dengan mu." Kata tristan seakan-akan seorang detektif.
"iya, aku juga menduga itu?" kata ku merespon.
"siapa yang mengambil foto ini?" tanya riski oon.
"mana kami tahu. makanya itu dicari tahu, jangan nanya aja." kata ku kesal.
siapa coba yang nggak kesal dari tadi makan aja yang di pikiri. "terbuat dari apa sih lambung nii anak, kok bisa menampung banyak makanan." Kata ku dalam hati.
"tristan, kamu ingat nggak waktu itu selain kamu yang ada di tempat itu siapa lagi.
"mana dia tahu" ketus ku.
"aku bukan nanya kamu. Jadi tolong jangan di jawab." ketus nya.
aku hanya terdiam seraya digampar sehelai kertas.
"aku nggak ingat, lagian pertanyaan kamu nggak logis." Jawab tristan.
"mana tahu, ada wajah-wajah yang familiar gitu." kata riski lagi,

"Udah masalah siapa yang ngambil foto ini nggak usah dipermasalahkan, yang harus di permasalahkan adalah siapa pengirim paket-paket ini dan kenapa dia melakukannya?" Kata ku.

"iya, kamu ada benarnya juga lis." kata tristan.
"gimana kalau besok kita ke kuburan nina aja" ajak riski.
"iya ya," kata ku.
"ya udah besok kita kesana. Aku tunggu dirumah ku" kata ku pada mereka.
"aku pulang duluan ya" kata riski meninggalkan aku dan tristan.
"aku juga nii tan. bye" kata ku padanya.
Hati ku tetap saja tidak tenang meski aku sudah memberitahu paket itu pada kedua sahabat ku itu. Aku belum memberitahu tentang buku harian nina yang kudapat dari paket sebelumnya.



No comments:

Post a Comment

Pendakian Pertama

Yaps, bulan Mei tahun lalu tahun 2017 di salah satu sudut ruangan kantor, kalau gak salah ingat, hihi kami bertujuh sedang membicaraka...