Thursday, 5 April 2012

Last Gift Part 12

Hari yang telah lama ku nanti tiba saatnya. Sudah lama aku tidak pergi ke pemakaman nina hampi 3 bulan sejak kematian nina. Bagi ku itu uda lama sekali.
Aku sibuk dengan paket-paket yang hanya mebuat ku pusing 7 keliling. 

Aku menunggu ke dua sahabat ku itu diteras depan rumah. Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang tidak asing lagi melintas pagar rumah ku dengan sangat cepat. Sekilas wajah itu mengingat kan ku pada nina. Spontan aku bangkit dari tempat duduk ku untuk mengejar sosok itu, tapi berat rasanya kaki ku untuk melangkah.
"aduh, kenapa nii?" Tanya ku dalam hati. Aku mulai ketakutan. Rumah ku hari ini sepi, tak seorang pun ada disini, hanya aku sendiri. Ibu dan Ayah sedang tidak dirumah.
"lisa," seseorang memanggilku.
"tristan" ingin aku rasa nya berteriak sekuat tenaga ku menyahut panggilannya itu, namun sepatah kata pun tak bisa ku ucapkan. Berat sekali rasanya lidah ini.
"tristan" Kata ku pelan dengan posisi masih berdiri heran, bingung dan terkejut.
Terlihat oleh ku samar-samar kedua sahabat ku yang sedang berdiri dipagar itu.
Perlahan mata ini mulai gelap, dan aku merasa kan tubuh ku terjatuh kelantai.
Samar-samar terdengar oleh ku suara teriakkan.
"lisa....lisa"

Aku tidak mengerti apakah ini mimpi atau tidak.
"lisa, berhentilah memikir kan ku" kata seseorang yang tidak jelas ku lihat.
"nina?" aku mulai mendekatinya.
"lisa, aku masih hidup. Tolong aku." Katanya lagi."tolong aku lisa"
"nina,nina" teriakku dan terbangun dari tidur ku tadi.

"lisa, kamu tidak apa-apa?" Tanya Tristan yang ada disampingku semabari memegang minyak angin.
Aku tidak menyahutinya, aku masih saja memikirkan mimpi buruk tadi.
"lisa, kamu kenapa?" tanya tristan lagi.
"aku tidak apa-apa" Kata ku pelan sembari bangkit berdiri.
"ayo," kata ku.
"kemana?" tanya tristan.
"ke  kuburan nina." aku memperhatikan sekeliling ku." riski mana?" Tanya ku.
"nggak tahu, tapi tadi dia udah kesini. Waktu kamu pingsan tadi." jelas tristan.
"ayo dong kasih tau aku, kamu kok bisa pingsan?" Tanya nya.
"aku juga nggak tahu." aku meminum minuman yang ada diatas meja.
"belom makan?" tanya nya lagi.
"udah, berangkat sekarang yuk" kata ku padanya.
"ya udah. Tapi kamu udah nggak apa-apa kan lis"

Tristan melajukan sepeda motornya. "kerumah riski dulu." Kata ku.
Sepanjang perjalanan kerumah riski aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun padanya dan sebaliknya.

sesampainya di rumah riski.
"kok sepi?" Katanya.
“itu ada bi wati, Tanya tan?” aku menghampiri bi wati yang baru saja pulang berbelanja.
“bi, riski mana? Tristan bertanya pada bi wati.
“den, riski udah pergi dari tadi, katanya mau ke pemakaman almarhum non nina” Jelas bi wati.
“yaudah, makasih ya bi?” Kami meninggalkan bi wati dan melanjutkan perjalanan kami selanjutnya yaitu ke pemakaman nina.

sesampainya disana, aku dan tristan melihat riski.
"lis, itukan riski." Tunjuk Tristan  kearah riski yang sedang memandangai kuburan nina.

"ngapain dia lis, lihat mulutnya komat kamit sendiri, macem baca mantra." tristan memperhatikan riski dengan serius dari kejauhan. Sepertinya riski tidak menyadari kehadiran kami.

Aku dan tristan mendekati riski tanpa di ketahuinya.
Kami tidak berniat mengejutkan nya, tapi kami berniat mendengar perkataanya.





1 comment:

Review ala-ala Drama Voice Season 2

Credit google image Kali ini cerita-saya, kembali lagi dengan review ala-alanya. Setelah mereview salah satu film korea yang keren bgt...