Sunday, 22 April 2012

Last Gift Part 14


Aku masuk ke dalam rumah sambil memikirkan hal yang baru saja terjadi.
“lisa udah pulang” ibu bertanya.
“iya, ibu uda pulang.aku ke kamar ya bu” aku menjawab pertanyaan ibu dan bergegas ke kamar.
“oh iya lisa, tadi ada yang ngirim kamu paket. Ibu letakkan diatas meja kamar” ibu berkata pada ku.
“iya” sahut ku.

Aku berbaring di tempat tidur ku sejenak mengamati langit-langit kamarku. Sore ini udara diluar mendukung suasana hati ku.  “tak terasa sudah sore” pikirku dalam hati. Aku belum memberitahu ibu kalau tadi aku pingsan. Aku tidak ingin membuat ibu khawatir.

Sekejab aku mengingat perkataan ibu tadi dan mengambil paket itu. Ingin rasanya ku buang saja paket-paket itu dan membakar nya.

saat aku mulai membuka paket itu , aku teringat buku harian nina yang belum sempat ku baca. Aku mengurung niat ku untuk membuka paket itu. Aku mengambil buku harian nina dari laci meja.

Aku membuka lembar demi lembar buku itu dan membaca isi demi isi dengan haru. Hingga halaman terakhir aku tertegun. Aku melihat tulisan tangan nina terakhir . Tertulis disana tanggal pembuatan nya tanggal dimana nina kecelakaan.

Aku membaca nya dengan haru.
“ Hari ini aku mendapatkan paket berisi sepucuk surat dari seseorang. Aku takut sekali membaca surat itu. Aku takut kalau pesan dari surat itu benar-benar akan terjadi.Aku takut kalau lisa benar-benar akan ditabrak seseorang.  Aku akan menyelamatkan sahabat ku lisa, hari ini aku akan datang kerumah nya. Dan memberitahunya soal surat itu. “
Aku teringat perkataan riski mengenai surat yang diterima nina sebelum kecelakaan itu terjadi. Pasti yang di maksud nina adalah surat itu. Surat yang ada didalam paket itu.

Aku bergegas keluar kamar  untuk menemui riski, “riski masih marah, mungkin dia belum mau bertemu dengan ku” Aku mengurungkan niat ku.Pasti  dia kesal sama ku.

Aku kembali memasuki kamar dan mengambil telepon genggam ku untuk menelpon Tristan. Nada sambung masuk, berkali-kali aku menelponnya tapi tetap saja dia tidak mengangkap telpon ku.

Hari sudah malam, tak seorang pun yang bisa ku temui baik riski maupun Tristan.
Aku mendatangi rumah Tristan.

“Tristan…tristan” aku memanggil Tristan berkali-kali. Tak seorang pun yang menyahut.  Tiba-tiba saja kakak Tristan keluar “Tristan,belum pulang lisa dari tadi pagi” kakak itu memberitahu aku.
“belum pulang ya. Kok lama tumben?” Aku berkata pada kakak Tristan.
“tapi tadi katanya dia pergi bareng kamu” Kata kakak itu.
“iya, tadi kami memang sama. Aku pulang duluan.” Aku berbohong pada kakak nita kakaknya Tristan itu.
“yaudah ya kakak, makasih” aku meninggalkan rumah Tristan. Belum Beberapa langkah aku menjauh dari rumah itu, suara sepeda motor Tristan terdengar.
“dari mana aja”  aku bertanya pada Tristan yang belum turun dari sepeda motornya.
“bukan urusanmu”  Tristan menepis ku dan bergegas masuk  rumah. Dia meninggalkan ku di halaman rumah nya.
“ada apa dengan Tristan.” Aku bertanya-tanya dalam hati.
setelah dari kejadian itu semua orang berubah termasuk Tristan. Aku kembali kerumah  dan berbaring ditempat tidur hingga memejamkan mata tertidur lelap.

********
“Lisa, bangun sayang. Ntar kamu terlambat lagi” Ibu berkata dari balik pintu.
“iya”  sahut ku.
Aku bergegas mandi dan berpakaian.
Hari ini sepertinya aku tidak enak badan.
“pagi bu” Kata ku pada ibu yang sedang menyiapkan makanan.
“loh, tumben kok nggak bersemangat” kata ibu.
“nggak apa-apa” Kata ku.
“bu, kayak nya hari ini Tristan nggak jemput Aku” Aku berkata pada ibu sambil menyantap makanan yang ada di depan mata.
“itulah kan. Kalau uda tau begitu bangun nya agak cepat. Ayah lagi nggak ada disini kamu mau berangkat  bareng siapa.”  Ibu berkata pada ku.
“naik angkutan umum” jawab ku.
“bu, hari ini aku nggak sekolah ya.” Aku berkata lagi pada ibu.
“memangnya kenapa?” ibu bertanya. “sakit” ibu memegang dahi ku.
“iya, kamu panas” spontan ibu.
“ya udah nggak usah sekolah. Tiduran aja. Nanti ibu telpon kesekolah mu.” Kata ibu.

Aku berbaring ke kamar. Ibu menyelimuti ku. “nanti kita kedokter” kata ibu.
“akh, nggak usah. Ntar juga baikan” aku menolak ajakan ibu.
Ibu mengambil thermometer untuk mengukur panas ku.
“kan, 390 C. ini tinggi, pokoknya nanti kedokter.” Ibu berkata.




BERSAMBUNG.......

1 comment:

  1. ini cerita nya kehidupan mu apa karangan? ga ngerti @_@

    ReplyDelete

Review ala-ala Drama Voice Season 2

Credit google image Kali ini cerita-saya, kembali lagi dengan review ala-alanya. Setelah mereview salah satu film korea yang keren bgt...