Saturday, 14 April 2012

Last Gift Part 13


Ini kelanjutan cerita last gift nya.
Ayo ikutin ceritanya terus pasti bakalan seru sekali.
Jangan lupa berikan komentar, saran, maupun kritikan setelah membaca cerita ini.

Kami bersembunyi di balik pohon yang cukup rindang yang ada di pemakaman umum itu. Pohon, itu mampu menyembunyikan kami dibalik batang besarnya itu, tanpa di ketahui riski.Pohon itu tidak berjarak begitu jauh dari tempat nina dimakamkan.

Samar-samar aku dan Tristan mendengar riski mengatakan “nina,maafkan kakak ya” Itulah perkataan yang kami dengar.
“kenapa dia minta maaf tan?” aku bertanya pada Tristan.
“mana aku tahu, mungkin dia ada salah kali sama nina? Tristan tetap saja memperhatikan riski.
“tan, dosa loh ngupin kayak gini.” Aku mulai ketakutan. Apalagi tempat nya cukup mengerikan buat ku.
“iya,sih. Tapi siapa yang ngajak, kan kamu?” Tristan malah menudu ku.

sementara kami asyik berbicara di balik pohon itu. Ternyata riski menyadari kami ada disitu.
“lisa, Tristan ngapain disitu.”  Riski berkata dengan suara dingin.
Kali ini aku benar-benar takut, takut sekali.
“kan tan, kita udah ketauan” aku mendorong Tristan untuk keluar pertama sekali.
“eh, riski kamu udah duluan ternyata kesini” Tristan gugup bercampur takut.
Aku masih saja bersembunyi dibalik pohon itu, padahal sudah ketauan. Tristan menarik tangan ku. “keluar,lisa” bisik Tristan.

Aku memberanikan diri menghadap dan menatap mata riski.Aku melihat kesedihan yang amat sangat di mata riski. Aku melihat jelas mata itu penuh kesedihan. Aku segera mempalingkan mata ku dari tatapan mata riski.
Aku merasa bersalah sekali sudah menguping riski.

Tristan yang ada di samping ku hanya terdiam terpaku sama halnya dengan ku. Riski mempalingkan tubuhnya dan masih menatap kuburan nina.
Aku melihat punggung riski yang membelakangi kami berdua.

Selama setengah jam kami berdiam diri disitu. Hingga riski membuka pembicaraan lagi.

“aku sudah cukup.” Riski berbalik dan pergi meninggalkan kami yang masih berdiri di tempat masing-masing.
Aku dan Tristan saling berpandangan. Aku mengerutkan dahi ku memberikan kode “gimana” Bisikku pada Tristan.
“pulang” Balas nya.

Kami mengikuti riski dari belakang. Sebelum aku berpaling aku melihat ada mawar putih di sana. “ mungkin, riski membawakannya untuk nina.” Pikir ku dalam hati.

“riski, maaf ya soal tadi “ Aku membuka pembicaraan kami di perjalanan pulang.
Riski tidak menjawab omongan ku itu. Tak apa mungkin riski masih kesal melihat tingkah ku dan Tristan tadi.
Riski masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya tanpa pamit pada kami.

“tan, gimana dia marah “ aku membuka pembicaraan pada Tristan yang dari tadi juga diam saja.
“aku juga nggak tahu. Memang kita kekanak-kanakan. “ Tristan menambah omongan yang membuat ku semakin meras bersalah.
“yaudah, kita pulang aja.” Ajak Tristan.

Sepanjang perjalanan pulang Tristan juga tidak berbicara apa pun. Mungkin dia merasa bersalah atau apa pun itu.
“tan, makasih udah mau nemani aku” aku pamit pada Tristan.
“iya” sahut nya.

Dia memutar balik sepeda motornya, bukan kerumah nya tapi dia melajukan sepeda motornya berjalan lurus.

“Tristan mau kemana?” aku bertanya-tanya dalam hati.
Hari ini yang tadi nya hari yang menyenangkan dan sudah lama ku tunggu dan ku nantikan berubah menjadi hari yang sangat menyebalkan.



1 comment:

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...