Saturday, 12 November 2011

Last Gift Part 10

Ini kelanjutan cerita nya...

Riski melajukan sepeda motornya dengan kencang.
Akhirnya dengan  sedikit tidak sadar. kami tiba didepan pagar rumah tristan.
"lis, ngapain sih kamu minta temani aku ke rumah tristan. Padahal dari rumah kamu ke rumah tristan kan hanya beberapa langkah. ihh, bilangan aja kalau kamu mau terus bareng aku." Riski tertawa terbahak-bahak.
"males aja kalau pergi sendiri." ketus ku.
sebenarnya sih aku emang mau berlamaan sama riski. Aku tertawa dalam hati ku.


"tumben banget nii anak ngunci pagar nya segala." kata ku.
"tristan...tristan...tristan,....." berkali-kali ku memanggil tristan, tak seorang pun menyahut.
"seperti rumah tidak berpenghuni." kata riski. "pergi kali mereka sekeluarga."
"kok nggak kasih tahu aku, kalau mereka mau  pergi." jawab ku kesal. aku berjalan kesal menuju rumah ku yang tidak begitu jauh dari rumah tristan.
"woiii, tunggu." Teriak riski. Dia melajukan sepeda motornya tepat di pagar rumah ku.
Tiba-tiba saja dia muncul di hadapan ku sambil berteriak.
"emangnya, setiap keluarga tristan mau pergi minta ijin ke kamu ya?" Teriak nya.
belum sempat ku buka pintu pagar ku.Aku melihat paket di depan pintu rumahku.

"riski, lihat itu. Paket itu." kata ku sembari menunjuk paket itu.
riski membuka pagar ku dan berlari mendekat ke paket itu.
aku teringat pada paket yang terakhir kali ku terima waktu aku bersama riski, aku belum mengatakan pada riski bahwa paket itu berisi buku harian nina.
Riski langsung membuka paket itu dan dengan cepat aku mencegahnya "tunggu riski"aku menahan tangannya.
"ada apa" menatap aku penuh rasa penasaran.
"buka nya di dalam aja." Kata ku pada riski.
aku mengetuk pintu ruumah ku dan ibu segera membukakan pintu untuk kami.

"duduk, sini riski. aku mau ke kamar dulu."
aku meninggalkan riski di ruang tamu dengan rasa bingung untuk beberapa menit.

DIKAMAR.
aku membuka paket itu tanpa sepengetahuan riski. Betapa terkejutnya aku melihat paket itu. Paket itu berisi foto nina. Tempat dalam foto itu sepertinya aku mengenalnya. Itu tempat yang ada di simpang gang rumah ku. tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu. Aku teringat kata-kata tristan. Ini foto nina sebelum kecelakaan itu terjadi.

dengan cepat aku mengembalikan foto itu kedalam kotaknya. Dan segera menuju ruang tamu.
"maaf, lama." kata ku.
"iya nii. udah mau keriput nungguin kamu keluar dari kamar." Jawab riski bercanda.
"nggak ada waktu untuk bercanda" Kata ku.
"kok gitu." katanya.
"cepat lihat paket ini." aku memberikan paket itu pada riski.
"foto ini, ini kan nina." riski terkejut melihat foto itu.
"itu foto nina saat ia ingin mengahampiri ku malam sebelum kecelakaan itu terjadi." Jelas ku.
"telpon tristan sekarang" kata riski memaksa.
aku mengambil telpon genggam ku dan segera menelpon tristan. lagi-lagi tristan tidak bisa dihubungi,
"nggak aktif" kata ku. "dia nggak pernah kayak gini. biasanya dia selalu memberitahu ku kalau dia mau pergi. Tapi ini kok nggak ya.  Ada apa sih sebenarnya sama dia."
"aku curiga sama dia. tiba-tiba menghilang." kata riski.
 "ya sudah ya aku pulang, bye!!" riski pamit pada ku.
Belum sempat riski keluar dari rumah…

tiba-tiba sesorang memanggil ku.
"lisa....lisa" teriak seseorang dari luar.
"kayak suara tristan. jangan-jangan" kata ku pada riski.
kami berdua terperanjak dari tempat duduk dan melihat keluar.
"kan benar tristan." kata ku pada riski.
"dari mana  aja" tanya riski.
"ihh, kok gitu sih riski. Tristan kan baru datang." kata ku pada riski memarahinya.
"ohhh, maaf ya lisa. aku nggak ngasih tahu kamu." katanya lagi.
"nggak apa-apa." kata ku. "kamu dari mana. kok dihubungi nggak aktif."
"hp aku hilang." kata tristan. Riski hanya duduk dan membaca majalah yang ada di ruang tamu ku.


"kamu dari mana?" tanya ku.
"nenek ku di kampung sakit, jadi kami sekeluarga kemarin buru-buru kesana" Mencoba menjelas kan pada aku dan riski.
"ohhhh, jadi nenek kamu udah baikan." tanya ku lagi.
"lumayan. Baru sampe kok langsung ditanyai, kayak reporter aja kamu." tristan membuat sedikit suasana lucu.
"tristan aku mau cerita sama kamu, tadi aku dapat paket yang berisi...."tiba-tiba saja perkataan ku di potong oleh riski.
"bawa oleh-oleh apa tan?" Tanya riski.
"berubah baik nii kalau ada mau nya." Kata ku
ayo kerumah ku." kata tristan.



Bersambung......


No comments:

Post a Comment

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...