Saturday, 20 August 2011

A Last Gift part 3

"hay lisa" riski menyapa ku dari luar pagar. "loh, itu kan anak baru itu. Dia kok tahu rumah mu,lis?" Tanya Tristan heran sekaligus terkejut. "mana ku tahu" Jawab ku pada tristan yang masih terpaku di sebelah ku. "maaf ya aku uda menggangu kalian berdua" Kata riski pada kami berdua. "tahu dari siapa rumah ku" Tanya ku padanya. "tahu dari seseorang." Jawab nya jujur. "siapa?" Tanya tristan penasaran "adalah..."Sahut nya lagi. aku tidak berniat tahu siapa seseorang yang di maksud oleh riski. "ada apa mau ke sini" Tanya ku lagi padanya. "jadi, ga boleh ya. biar aku pulang nii." Jawabnya. "akh, ga papa kok" jawab ku lagi.

"sebentar ya aku ambilkan minuman untuk kalian" Kata ku pada mereka berdua.
"iya" Sahut riski.
"tumben banget nyediain minuman, biasanya kan ga." Kata tristan meledek ku.
Aku segera berlari menuju dapur untuk menyediakan minuman mereka berdua. Aku tidak tahu apa mereka sedang berbincang-bincang di teras depan sekarang.

Aku kembali ke teras depan.. Aku melihat mereka berdiam-diaman saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. "ini minumannya, di minum ya" Ku letakan minuman itu di meja dekat pintu. "kok, ga ngomongan sih. Kita bertiga kan satu kelas" kata ku pada mereka. "oh, iya aku tristan." Sapa tristan mengulurkan tangan kanannya pada riski. "riski" jawab riski membalas uluran tangan itu. "apa gerangan kamu kesini" tristan tiba-tiba saja bertanya pada riski. "aku hanya ingin berkunjung saja kesini. "oh, begitu" Sambung ku. "oh, iya, lisa. Tadi kamu mau nyeritain apa" tanya tristan pada ku. "akh,ga jadi. Kapan-kapan aja." Jawabku. "kok ga jadi sih." jawabnya lagi. "kok, ga jadi lisa, apa karena aku ya." sambung riski. "ga akh. aku lupa apa yang mau diceritain" sahutku pada riski. "gimana kalau kita main monopoli aja" ajak tristan. "setuju" Sahut aku dan riski serentak.

Baru sebentar saja kami bertiga sudah begitu akrab. Kami bertiga menghabiskan waktu yang singkat itu hingga kesorean bermain monopoli bersama.
Tapi ada yang aneh saat aku melihat dan memperhatikan riski, wajah nya itu seperti seseorang yang aku kenal.
“iya, wajah itu seperti nina” aku berkata dalam hati
“hey, apa lihat-lihat” riski merasakan bahwa dari tadi aku memperhatikannya.
"wah, pemenang nya aku" Kata tristan senang. "uh, ga terasa uda begitu sore ya" Kata riski menyambung.
“Kita, pulang ya lisa” serentak mereka pamit.
Sejak saat itu aku dan Tristan mulai dekat dengan riski. Kami sudah menganggap riski sebagai sahabat kami.

************

"sayang" Teriak ibu dari luar kamar."ada apa bu." Tanya ku lagi. "ada tristan " Kata ibu padaku. "ya ampun. Barusan aja dia pulang. Eh, datang lagi." Pekik ku . belum lagi aku masih mikirin kenapa riski bisa tahu rumah ku. Sebenarnya aku ingin tahu siapa seseorang itu, ya tapi apa boleh buat lah dia juga tidak ingin memberitahu ku.
 "ada, apa sih tristan" Jawabku kesal pada Tristan yang sedang duduk diruang tamu ku.
 "aku balik, mau ngasih tahu sesuatu aja" Jawabnya lagi padaku."sesuatu apa".."ini soal riski,lis. Apa kamu ga heran? Tanyanya. " heran lah."...
"kira-kira siapa ya seseorang yang dimaksud riski tadi. secara kan yang tahu rumah mu kan cuman aku dan nina. teman-teman yang lain kan pada ga tahu rumah mu. Aneh kan" Kata Tristan
"iya, kamu benar. Aku juga tadi mikirin itu di kamar. Siapa ya"
"aku juga ga tahu."jawab nya.

"kita ke teras yuk. Ada yang mau aku ceritain ke kamu" ajak ku pada tristan.
"mau cerita yang tadi ya, tapi uda lupa" ledek nya.
"gini tristan. Dua bulan terakhir ini sejak nina meninggal aku selalu mendapat kan sebuah paket kosong. aku bingung dari siapa paket itu"
"emang nya nama pengirim tidak tercantum" tanya tistan.
suasana malam ini dingin, seperti mendukung cerita ku ini.
"itu dia masalah nya pengirim tidak mencantumkan namanya"
"uda dapat berapa paket kamu" Tanya tristan penasaran.
"uda empat buah yang kudapat. Tapi yang anehnya paket itu selalu di bungkus dengan kertas yang sama. Apa coba maksudnya"
"mungkin aja pengirimnya itu ngefans sama kamu. Ada juga ya yang ngefans sama kamu. hehhhe" ledek tristan.
"tapi aku ga suka. mau ga bantuin aku selidiki siapa pengirimnya"
"gimana ya. ya udah, mulainya kapan" Tanya nya lagi.
"mulai besok gimana"tanya ku padanya.
"ya udah" Kata tristan.
"katanya kamu juga mau cerita,tan. Apa?" Tanya ku padanya.
"begini..."
Tiba-tiba saja hp ku berdering.....

Apa kah kelanjutan nya...

No comments:

Post a Comment

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...