Wednesday, 24 August 2011

A Last Gift part 4



"hallo" Sapaku pada orang diseberang telpon.
"ini lisa" sahut orang itu.
"iya benar. ini sapa"
"aku riski..." sahut nya.
"riski..!! tahu dari mana nomor ku..." tanya ku, sedikit terkejut.
"ada apa menelpon ku malam-malam begini..." Tanya ku lagi padanya.
"lagi sama tristan kan.." Katanya padaku.
"iya.."
telpon nya terputus, mungkin hpya lobet atau pulsanya yang habis.
"riski ya" tanya tristan..
"iya,..."
"apa kata dia. tahu dari siapa nomor mu.." tanya tristan lagi..
"ga tau, mungkin dari teman kita."
"ohhhh".

"katanya tadi kamu mau cerita. cerita Apa?" Tanya ku pada tristan."uda lupa.oh iya aku boleh lihat paket itu tidak" tanya tristan sambil menerawang.
"boleh, bentar ya ku ambilkan di kamar."

"ini" kata ku padanya sembari menyerahkan paket-paket itu.
"lisa, biasanya paket ini diantar setiap hari? "tidak" jawabku. "jam berapa biasnya di antar?" tanya tristan sok menyelidik.
"ga tentu, mungkin siang hari saat aku tidak ada di rumah"
"begitu ya."

kami terdiam sejenak, seolah-olah ada yang kami pikirkan. "lisa" sapa tristan tiba-tiba. "apa?" Tanya ku lagi padanya.
"aku mau cerita soal nina"
"nina..."'jawab ku sedikit terkejut."cerita lah"
"begini, sebelum kamatian nya beberapa bulan yang lalu. Aku sempat melihat nya ke rumah mu. apa dia menjumpai mu"
"tidak.." kataku.."emang nya ada apa."
"tidak ada apa-apa" sahutnya lagi..
aku tidak mengerti dengan tristan. kenapa dia tidak memberitahu ku. Dari wajah nya seperti ada yang iya sembunyikan dari ku. "mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu nya" mungkin pikir tristan dalam lubuk hatinya.
"lisa, aku pulang ya"
"ya sudah" Jawab ku.
"om, tante Tristan pulang ya"
"iya" sahut ibu dari dalam rumah..

Aku kembali ke kamar ku dan mulai kembali memikirkan hal tadi.

"tidak ada satu pun dari hidup ini yang ku mengerti. Paket, mimpi apa itu semua." Pikirku."besok aku harus cari tahu siapa yang mengirim itu semua. "harus" kata ku dengan keras.
rasanya malam ini aku tidak ingin tidur, dan tidak ingin memimpikan mimpi yang bisa di bilang aneh itu. tapi apa yang harus di kata, malam itu kedua mata ku mendesak ku untuk memejamkan mata.

***********

"pagi ayah, pagi ibu" Sapa ku pada ayah dan ibu yang sudah berada di meja makan. "aku berangkat dulu ya." Kata ku smbari mencium kedua tangan kanan mereka.
Tristan sudah menuggu ku dengan sepeda motornya yang itu-itu saja setiap hari.
"tumben, datang nya cepat.." Sapaku padanya. Tristan termasuk orang yang sering telat. Biasanya aku harus menunggunya bermenit-menit. "datang cepat salah, ga datang cepat juga salah, jadi maunya gimana." Jawabnya tertawa.  "pakai nii helm."
Aku kesal setiap kali tristan menyuruh ku memakai helm. Tapi tidak apa-apalah, ntar kalau aku protes terus dia bisa-bisa tidak mau lagi berangkat dengan  ku. Kan lumayan irit ongkos.
"lisa, nanti kerumah riski yuk,"
"ngapain" tanya ku padanya." aku sedikit curiga ngelihat anak itu."jawabnya."iya, aku juga. Dia tahu tentang aku. mungkin dia diam-diam ngefans kale sama ku,tan”.
"mulai deh, geernya. Jadi males aku" Jawab tristan.
"akhirnya sampai juga di sekolah. soalnya aku uda malas nii dekat-dekat sama kamu terus. Ga di sekolah, di kelas dan dirumah, yang ku lihat kamu-kamu aja" Canda ku pada tristan. Aku berlari menuju kelas ku dengar teriakkan tristan "woi, aku juga males kale."

"pagi lisa" sapa riski dari meja yang iya duduki.
"pagi juga" Sahut ku. Sebenarnya aku sedikit takut duduk dengan riski. Aku ingin sekali pindah, Tapi bangku ini bagi ku sangat berarti. "mungkin kalau aku pindah banyak cewek yang ingin duduk dengan nya. Tampang nya yang lumayan ini, mungkin bisa menarik anak perempuan di kelas ku ini. Riski memilki wajah yang lumayan. "mungkin saat ini aku belum naksir padanya, mungkin saja nanti. Heheeee" pikirku dalam hati sembari tersenyum padanya. " Lisa..." tiba-tiba saja teriakkan dari luar mengejutkan ku. "mana uang ku yang kamu pinjam kemaren" kata tristan padaku. "dasar".Suka bikin malu orang aja. Utang ku sama dia kan cuma seribu, itu aja minta  tagi. Lah dia yang utangnya berpuluh-puluh ribu sama ku. ga pernah tuh aku tagi" Pikir ku kesal. "nah, seribu kan" Teriakku padanya. Semua murid memperhatikan kami. aku malu sekali, sampai wajah ku memerah.
Setelah mendapatkan uang itu dia pergi meninggalkan ku begitu saja tanpa meminta maaf. "dasar" Kata ku dengan keras hingga mengejutkan semua orang. Riski yang disamping dari tadi hanya tersenyum memperhatikan perilaku ku dan tristan tadi. "kamu ternyata lucu ya" Kata nya pada ku.





No comments:

Post a Comment

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?

Daehan, Minguk, Manse, Who are they?  Hai, Apa kabar kalian? Ku harap kalian baik-baik saja. Sudah lama sekali rasanya aku tidak ...